Surabaya (beritajatim.com) – Pihak kepolisian akan memeriksakan BA (11) siswa kelas 5 MI Al Hidayah Tambaksari ke dokter orthopedic atau bagian tulang untuk memeriksakan kembali adanya luka retak yang diklaim keluarga saat pelaporan.
“Untuk memastikan apakah itu benar-benar retak tulang dari rontgen, hari ini juga telah melakukan pemeriksaan kembali ke dokter orthopedi,” kata Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Oktavianus Edi Mamoto, Selasa (29/04/2025).
Pihak penyidik Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya sebenarnya sudah mengantongi hasil visum sebagai alat bukti dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak itu. Visum dilakukan baik secara rontgen dan fisik luar.
“Kalau untuk hasil pemeriksaan kami sudah melakukan pemeriksaan visum, baik secara fisik dan rontgen, dan untuk rontgennya kemarin saya mendengar bahwa ada retak tulang ya,” tegas Edi Mamoto.
Buntut aksi kekerasan di lomba Futsal antar Sekolah Dasar (SD) di Labschool Unesa, Minggu (29/04/2025) kemarin, petugas kepolisian langsung memeriksa kepala sekolah dan pelatih futsal SDN Simolawang. Keduanya pun sudah diperiksa di ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya sejak Selasa (29/04/2025) pagi.
diketahui sebelumnya, Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya Iptu Oktavianus Mamoto menjelaskan pihaknya sudah melakukan serangkaian penyelidikan dengan memeriksa saksi. Sementara, saksi yang sudah diperiksa adalah saksi korban, dua teman korban, kakak korban, orang tua dan pelatih futsal korban.
Oktavianus Mamoto menjelaskan dari hasil pemeriksaan kepada pelatih SDN Simolawang berinisal BAZ itu, didapat keterangan terkait motif kekerasan pada siswa SD itu. Menurut pengakuan BAZ tujuannya untuk menarik dan memisahkan korban. Hal itu dikarenakan korban saat merayakan kemenangan berselebrasi di depan tim futsal SDN Simolawang.
“Pada saat selebrasi terlalu gembira sehingga selebrasinya itu di depan lawan main. sehingga terlapor bermaksud menarik, namun memang cukup keras tarikannya hingga korban terlihat seperti yang ada di video itu, atau korban terpental lah,” tutur Oktavianus. (ang/ian)






