Jombang (beritajatim.com) – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali merebak di Kabupaten Jombang. Terhitung sejak januari 2023, sudah ada empat ekor sapi yang mati akibat serangan penyakit tersebut. Wabah PMK paling banyak muncul di Kecamatan Plandaan.
Demikian diungkapkan oleh Kepala Dinas Peternakan Jombang Agus Susilo Sugioto, Senin (30/1/2023). “Untuk Januari ini ada empat ekor sapi yang mati akibat PMK. Kasus terbanyak terjadi di kawasan utara Sungai Brantas Jombang, semisal Kecamatan Plandaan,” kata Agus menjelaskan.
Agus lantas merinci jumlah sapi yang terjangkit wabah PMK mulai Maret 2022 hingga 29 Januari 2023. Jumlah sapi yang terkena wabah PMK sebanyak 7.934 ekor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 229 ekor sapi mati. Kemudian sapi yang dipotong paksa sebanyak 259 ekor. Sedangkan sapi yang sembuh mencapai 7.410 ekor.
“Sapi yang sakit masih 36 ekor. Jumlah tersebut mengalamai penurunan. Karena pada 23 Januari 2023, sapi yang terkena PMK sebanyak 38 ekor. Untuk meminimalisir jumlah yang terserang PMK, kita terus melakukan vaksinasi,” kata mantan Kepala Satpol PP Jombang ini.
Baca Juga: 96 Ekor Sapi di Jombang Terindikasi PMK
“Sapi yang mati sejak ada PMK (Maret 2022) hingga sekarang sebanyak 229 ekor. Itu jumlah tahun lalu ditambah dengan empat sapi yang mati pada Januari 2023. Ini sudah vaksin kedua. Setelah itu vaksin booster. Itu yang kita lakukan. Tapi saya tidak hafal rinciannya. Saya masih di luar,” lanjutnya.
Agus mengungkapkan bahwa ternak yang terjangkit PMK rata-rata sapi yang didatangkan dari luar kota. Semisal sapi berasal dari Nganjuk dan Bojonegoro. Sedangkan sapi lokasi Jombang semisal di Ngoro dan Wonosalam cenderung aman. “Paling banyak sapi di Kecamatan Plandaan. Itupun sapi pendatang baru. Yakni dari Nganjuk dan Bojonegoro,” katanya.
Lantas apa upaya Dinas Peternakan untuk menekan penyebaran wabah tersebut? Agus menjelaskan, selain vaksinasi hewan ternak yang berpotensi mengidap PMK, pihaknya juga rutin melakukan penyemprotan disinfektan di kandang dan lingkungan peternakan. Juga melakukan pengawasan lalu lintas hewan dan produknya, baik segar maupun olahan. “Pengawasan kita lakukan di perbatan,” pungkasnya.

Berdasarkan catatan beritajatim.com, beberapa wilayah yang menjadi lokasi penyebaran wabah PMK di Jombang pada Juni 2022 adalah Kecamatan Tembelang. Di wilayah ini PMK menyebar di enam desa. Lalu Kecamatan Mojowarno 5 desa, Kecamatan Plandaan 11 desa, Kecamatan Gudo 5 desa, Kecamatan Diwek 4 desa, Kecamatan Ngusikan 9 desa, Kecamatan Jombang 4 desa.
[berita-terkait number=”2″ tag=”sapi-pmk”]
Setelah itu di Kecamatan Bareng 4 desa, Kecamatan Kudu 7 desa, Kecamatan Megaluh 7 desa, Kecamatan Mojoagung 3 desa, Kecamatan Perak 5 desa, Kecamatan Bandarkedungmulyo 7 desa, Kecamatan Jogoroto 3 desa. Lantas ada juga di Kecamatan Peterongan 5 desa, Kecamatan Ngoro 6 desa, Kecamatan Sumobito 2 desa, Kecamatan Ploso 1 desa, Kecamatan Kesamben 1 desa.
Pada Juni 2022 itu, dari total 2.060 ekor sapi yang terjangkit PMK, sebanyak 22 ekor sapi mati. “Sedangkan yang sembuh 535 ekor. Namun untuk Januari 2023 ini yang paling banyak di kawasan utara Sungai Brantas, semisal di Kecamatan Plandaan. Kalau Wonosalam dan Ngoro tidak ada lagi,” pungkas Kepala Dinas Peternakan Jombang ini. [suf/ted]






