Jember (beritajatim.com) – Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan cairan disinfektan di pasar hewan Kecamatan Ambulu dan Kecamatan Mayang. Tujuannya untuk mencegah penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak.
Penyemprotan tidak dilakukan asal-asalan terhadap hewan. “Penyemprotan dilakukan pada kendaraan angkutan hewan dan pada bagian kaki hewan sehingga aman untuk hewan,” kata Ketua PMI Jember Zaenal Marzuki, sebagaimana dilansir Humas PMI Jember, Selasa (31/5/2022).
Sebagai awal penyemprotan dilakukan di dua lokasi pasar hewan, Minggu (29/5/2022) kemarin. PMI saat itu menurunkan lima orang staf PMI, empat relawan PMI, 10 orang dari Dinas Peternakan, lima orang dari Kecamatan Ambulu dan Mayang ikut terlibat. Ada pula babinsa TNI, Bhabinkamtibmas Ambulu dan Mayang, serta ada dua orang dari Desa Ambulu.
Zaenal mengatakan, PMI akan melakukan penyemprotan jika diminta. “Setelah ada permintaan penyemprotan, PMI langsung menindaklanjuti dengan menurunkan relawan untuk melakukan penyemprotan. Kalau ada permintaan akan kami tindak lanjuti dengan assesmen, Kalau hasil assesmennya perlu dibantu, maka PMI akan menerjunkan tim,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-jatim”]
Sebagaimana diberitakan, Kamis (19/5/2022), Dinas Peternakan Kabupaten Jember menemukan adanya sapi yang tertular penyakit mulut dan kuku (PMK). Sekretaris Dinas Peternakan Jember Sugiyarto menambahkan, munculnya PMK ini mengejutkan. “Saat kita merayakan Idulfitri, Pemerintah Provinsi Jatim tidak libur karena kasus ini. Mereka setiap hari memonitor terus perkembangan kasus itu,” katanya.
Langkah lokalisir terhadap sapi yang suspek PMK dibutuhkan, mengingat populasi sapi di Jember cukup besar, yakni 270 ribu ekor. “Dengan penyebaran penyakit PMK yang di udara saja bisa menyebar 10 kilometer dari satu ternak ke ternak yang lain membuat kami sangat kebingungan kalau membuat outbreak (wabah) luar biasa. Sedangkan pengobatannya butuh waktu lama, karena ini virus. Obatnya belum ada. Yang bisa kita lakukan adalah mengobati simtomatis. Tapi obat membunuh virusnya belum ada,” kata Sugiyarto. [wir/but]






