Jember (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember, Jawa Timur, memandang perbedaan hari perayaan Idulfitri atau lebaran di Indonesia tak perlu dipersoalkan.
“Selamat hari raya Idulfitri untuk sahabat-sahabat Muhammadiyah yang akan merayakannya pada Jumat (21/4/2023). Semoga amal ibadah kita selama bulan suci Ramadan diterima Allah SWT. Semoga kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun depan,” kata Ketua DPC PKB Jember Ayub Junaidi, Kamis (20/4/2023).
“Perbedaan hari raya tidak usah dipolemikkan, karena perbedaan adalah rahmat. Jadi kita saling menghormati. Ini ada guyonan pedagang-pedagang di Pasar Tanjung Jember. Kalau bisa hari raya tiga kali, agar prepegan juga tiga kali,” kata Ayub tertawa. Prepegan adalah tradisi masyarakat pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan lebaran pada hari terakhir Ramadan.
Menurut Ayub, semua pihak punya alasan rasional yang sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran Islam dalam menentukan hari raya. “Yang satu harus melihat bulan untuk memastikan, yang satu memakai metode hisab. Sebenarnya ilmunya kan sama. Untuk orang mau melakukan rukyah, juga berdasar hisab. Itu semua dipelajari di pesantren,” katanya.
Ayub mengingatkan, perbedaan dalam penentuan awal Syawal bukan sekali ini saja terjadi. Pada masa Orde Baru, NU pernah kesulitan melaksanakan salat Idulfitri setelah semua masjid dikunci karena berbeda jadwal lebaran dengan pemerintah. “Akhirnya kita salat di musala masing-masing. Insyaallah seruan Pengurus Cabang NU Jember saat itu adalah melaksanakan salat Id di musala. Tidak ada masalah,” katanya.
Ayub heran hari ini perbedaan awal Syawal diperdebatkan di media sosial hingga saling serang. “Sudahlah, ini akhirnya menghilangkan esensi kita dalam beribadah Ramadan. Kita selama Ramadan belajar menghilangkan amarah, syak wasangka, kebencian, dan sebagainya,” katanya.
PKB Jember mengajak seluruh warga nahdliyyin untuk menghormati pilihan Muhammadiyah yang merayakan lebaran besok. “Kalau perlu kita semarakkan juga. Kan tinggal begitu. Teman-teman Muhammadiyah juga akan menghormati mereka yang masih berpuasa dan baru akan merayakan lebaran pada Sabtu keesokan harinya,” kata Ayub.
Apalagi umat Islam di Jember selama puluhan tahun sudah terbiasa berbeda jadwal Ramadan dan Idulftiri. “Itu umat Islam di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, sejak zaman sebelum republik ini merdeka sudah berbeda karena punya dasar yang berbeda. Tapi kita tidak pernah mengolok-olok, Tetap kita hormati, karena mereka saudara-saudara kita juga,” kata Ayub. [wir]






