Jember (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengkritik perubahan data suara Sirekap (Sistem Informasi Rekapitulasi Pemilu) yang tercantum di laman resmi Komisi Pemilihan Umum RI yang berpotensi meresahkan dan memicu keributan.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi mendapat laporan ada data pengurangan suara yang diperoleh kandidat. “Katakanlah pada pukul 22.00 WIB, seorang kandidat memperoleh sekian ribu suara. Dua jam kemudian justru hilang seribu suara,” katanya, Jumat (16/2/2024).
“Ini kan tidak mungkin. Seharusnya suara kandidat ini kan tiap menit bertambah atau minimal tetap. Kok bisa berkurang dalam waktu kurang lebih dua jam? Saya tidak tahu apakah sistemnya yang tidak beres. Alangkah baiknya KPU terbuka, ini permasalahannya apa, agar masyarakat tidak tersesatkan informasi itu yang akhirnya menjadikan saling klaim,” kata Ayub.
“Tidak usah ngomong pilpres. Ini ngomong pemilu legislatif. Ini di internal partai bisa gegeran, gara-gara suara berkurang. Menurut saya, KPU RI harus menjelaskan. Saya kontak komisioner KPU Kabupaten Jember, mereka menyampaikan tidak tahu. Itu kan sistem dari pusat. Mereka tidak bisa menjelaskan,” kata Ayub.
Menurut Ayub, jika gara-gara Sirekap terjadi gesekan, KPU daerah bisa menjadi bemper. “Kasihan loh KPU menjadi bemper keputusan pusat. Mereka tidak bisa apa-apa. Ini semua orang kan punya kepentingan,” katanya. Ayub mengingatkan kerawanan dalam rekap di level kecamatan dan kabupaten.
Ayub menyayangkan besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk membuat Sirekap jika kemudian tak berjalan baik di lapangan. Padahal Sirekap dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat memantau hasil pemilu dengan cepat dan transparan. [wir]






