Magetan (beritajatim.com) – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Magetan dinamis dari masa ke masa. Bahkan, sempat ada calon independen yang meraup suara kedua terbanyak. Namun, dari tiga kali Pemilu langsung di Magetan, dua kali dimenangkan Sumantri Noto Adinegoro dan Samsi di tahun 2008 sampai 2018 dan Suprawoto – Nanik Endang Rusminiarti (istri Sumantri).
Pilkada 11 Juni 2008
Pilkada 11 Juni 2008 diikuti oleh empat pasangan calon. Sumantri-Samsi yang diusung PDIP dan Patriot serta 10 parpol non parlemen, Miratul Mukminin (Gus Amik) -Djarno diusun Partai Golkar dan PKS. Kemudian, Saleh Mulyono-Teguh Martodirjo diusung Partai Demokrat, PAN, dan Partai Nasionalis Indonesia, serta Sadeni Hendarman-Ashari diusung partai Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Persatuan Pembanguan.
Sumantri-Samsi muncul sebagai pemenang usai mengalahkan tiga paslon lainnya dengan perolehan suara sebanyak 155.525 suara. Mantan anggota KPU Magetan Muries Subiyantoro mengatakan, jika Pemilu 2008 merupakan Pemilu yang Fenomenal. Mengingat, Gus Amik merupakan petahana karena sempat menjalankan tugas sebagai Plt Bupati Magetan pasca Bupati Saleh Mulyono tersandung kasus korupsi saat itu.
”Almarhum Gus Amik dulu kan bisa dibilang petahana. Kemudian, pak Sumantri saat itu juga mantan Sekretaris Daerah. Ditambah Pak Saleh Mulyono sendiri saat itu juga merupakan petahana. Tapi ternyata, saat itu Pak Sumantri dan Pak Samsi justru menjadi pemenang, dan selisihnya sekitar 1.111 suara dengan Gus Amik-Djarno” terang Muries, Kamis (15/8/2024)
Muries mengatakan, faktor yang mempengaruhi kemenangan Sumantri-Samsi 2008 karena Sumantri memiliki basis sosial yang kuat. Modal sebagai Sekda juga mempengaruhi jaringan di birokrasi. Kemudian, Sumantri saat itu juga sudah menjadi tokoh penting dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate.
”Tentu, peran di internal PSHT juga memberikan pengaruh signifikan. ditambah sosok Pak Sumantri ini adalah karakter lembah manah yang diterima semua kalangan,” terang Muries.
Namun, kemenangan Sumantri Samsi tak mulus begitu saja. Pasangan Gus Amik-Djarno sempat menggugat hasil Pilkada 2008 Magetan ke Pengadilan Tinggi Jawa TImur. ”Dulu belum ada gugatan ke Mahkamah Konstitusi ya. Sehingga yang menangani sengketa Pilkada ya masih Pengadilan Tinggi Jatim. Namun, gugatan soal hasil dan proses Pilkada 2008 lalu dimenangkan KPU, kemudian Sumantri-Samsi ditetapkan sebagai paslon terpilih,” kata Muries.
Pemilu 24 April 2013
Masih kata Muries, Pilkada Magetan 24 April 2013 tak kalah bersejarah. Pertama kalinya ada paslon jalur perseorangan atau yang kondang disebut paslon independen. Pun, petahana Sumantri-Samsi kembali macung. Saat itu, Sumantri Samsi diusung PDIP dan Partai Golkar. Kemudian, Nanik Karsini-Sugiho Pramono maju leat jalur perseorangan. Kemudian, Djoko Prabowo menggandeng Hartoto yang diusung Partai Demokrat, PAN, dan Patriot.
Meski akhirnya dimenangkan oleh Sumantri-Samsi, namun pasangan jalur perseorangan yakni Nanik Karsini-Sugiho Pramono justru mendapat suara terbanyak kedua. Saat itu Sumantri Samsi menang dengan 227.612 suara, Nanik Karsini-Sugiho Pramono mendapatkan 116.374 suara, Sedangan, pasangan Djoko Prabowo-Hartoto mendapatkan 41.976 suara. Daftar pemilih tetap yakni 553.724 pemilih.
”Kekuatannya dulu berimbang. Namun, karena Sumantri-Samsi ini petahana saat itu, sehingga tentu memberikan pengaruh yang besar bagi kemenangan mereka. Kemudian, di Pilkada 2018 ini tidak ada sengketa hasil ya. Otomatis pasangan ini kembali memimpin Magetan saat itu,” ujar Muries.
Sementara Nanik Karsini, sebelumnya menjabat sebagai anggota Sekjen KPU RI. Saat ikut Pilkada 2024, regulasi dahulu tak mensyaratkan mundur, namun hanya non aktif. Usai Pilkada 2013, Nanik kembali menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Saat ini menjabat sebagai Sekretaris KPU Jawa Timur.
Pilkada 2018
Muries menilai, Pilkada 2018 juga tak kalah menarik. Pemenang Pilkada 2018 yakni Suprawoto – Nanik Endang Rusminiarti, justru diusung partai yang relatif minoritas. Yakni PPP, Partai Demokrat, dan Hanura. Keduanya menang dengan mendapatkan 165.786 suara atau 43,17 persen.
Kemudian, paslon Suyatni Priasmoro- Nur Wahid yang diusung Partai Nasdem dan PKS mendapatkan 115.724 suara atau 30,14 persen. Sementara, Miratul Mukminin (Gus Amik) – Joko Suyono yang diusung PDIP, Golkar, Partai Gerindra, PKS, dan PAN memperoleh suara 102.503 atau 26,69 persen. Diketahui, sebelum menjadi calon Wakil Bupati, Joko Suyono merupakan Ketua DPRD Magetan dan kemudian undur diri karena ikut Pilkada.
”Bisa dilihat dulu Gus Amik-Joko Suyono justru mendapatkan suara paling sedikit meski koalisinya gemuk. Tentu ini harus jadi pelajaran bagi kandidat yang hendak macung Pilkada 2024. Buktinya, koalisi gemuk belum tentu bisa memenangkan Pilkada,” terang Muries
Dia menilai Suprawoto-Nanik atau dulu kondang disebut Prona, bisa menang karena faktor dukungan dari Sumantri yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati. Ditambah, secara modal, pasangan ini cukup kuat.
Arah Pilkada 2024
Muries menilai PIlkada 2024 Magetan tak bisa diprediksi dengan mudah. Adanya kandidat yang sudah mendapatkan surat tugas belum tentu mendapatkan rekomnedasi parpol. Kemudian, yang sudah dapat rekomendasi juga belum tentu benar-benar mendaftar ke KPU.
”Siapa saja yang jelas macung dan ada berapa poros tetap tergantung pada tanggal 27 Agustus 2024 sampai 29 Agustus 2024. Sampai detik terakhir pendaftaran, segala hal masih bisa berubah,” lanjut Penggagas Local Government and Political Research Institute (Logopori) itu.
Kendati demikian, dia menepis kemungkinan adanya calon tunggal di Magetan. Namun, dia juga tak ingin jika paslon hanya ada dua. ”ya lebih baik tiga paslon seperti Pilkada sebelumnya. Sehingga konflik di maasyarakat ini tidak terlalu tegang. Masibisa cair lah kalau tiga,” katanya.
Seperti diketahui, Nanik Endang Rusminiarti dan Suyatni Priasmoro sudah mendapatkan rekomendasi resmi dari Partai Gerindra. Sementara, PKB dan Nasdem dipastikan segera memberikan rekom resmi pada keduanya sebagai bakal calon BUpati dan bakal Calon Wakil Bupati.
Sementara, mantan Pj Bupati Magetan Hergunadi juga telah mendapatkan form untuk mendaftar langsung ke KPU sebagai bakal calon Bupati yang diusung PAN. Sementara, Basuki Babussalam yang jadi bakal calon Wakil Bupatinya. [fiq/beq]






