Surabaya (beritajatim.com) – Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) melayangkan protes terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia melawan Argentina.
EFA menilai sejumlah keputusan wasit, termasuk penerapan Video Assistant Referee (VAR), berdampak langsung terhadap hasil pertandingan yang berakhir dengan kemenangan dramatis Argentina 3-2.
Argentina memastikan tiket ke perempat final setelah membalikkan keadaan dari ketertinggalan dua gol pada laga yang berlangsung Rabu (8/7/2026) dini hari WIB. Gol penentu kemenangan dicetak Enzo Fernández pada masa injury time, memicu ketegangan di sekitar bangku cadangan Mesir.
Situasi memanas setelah gol tersebut disahkan. Pelatih kiper Mesir, Saafan Elsaghir, diganjar kartu merah karena melakukan protes keras kepada wasit asal Prancis, François Letexier. Beberapa anggota tim Mesir lainnya juga menerima kartu kuning akibat memprotes keputusan wasit.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu, EFA menyebut tidak dapat menerima begitu saja kepemimpinan wasit yang dinilai merugikan tim nasional mereka.
“Asosiasi Sepak Bola Mesir tidak bisa tinggal diam terkait keputusan wasit yang disaksikan selama pertandingan melawan Argentina serta kegagalan dalam menggunakan sistem Video Assistant Referee (VAR) dengan tepat,” demikian pernyataan resmi EFA.
Federasi itu juga menyoroti sejumlah momen krusial yang dianggap menimbulkan keraguan terhadap konsistensi pengambilan keputusan di lapangan.
“Beberapa insiden penting menimbulkan kekhawatiran serius dan meninggalkan pertanyaan mendalam tentang konsistensi dan keadilan keputusan yang secara langsung memengaruhi jalannya pertandingan,” tulis EFA.
Menurut federasi, kontroversi tersebut memicu kekecewaan mendalam di kalangan pemain, staf pelatih, hingga para pendukung yang mengharapkan standar kepemimpinan wasit terbaik pada ajang sepak bola dunia.
“Apa yang terjadi selama pertandingan tentu saja telah menimbulkan frustrasi yang meluas di antara para pemain, staf, dan pendukung kami, yang mengharapkan standar perwasitan tertinggi di panggung sepak bola terbesar,” lanjut pernyataan tersebut.
Mesir sempat berada di atas angin setelah Mostafa Zico membawa timnya unggul 2-0 hingga menit ke-67. Namun, Argentina mampu bangkit dan menyamakan kedudukan sebelum Enzo Fernández mencetak gol kemenangan pada masa tambahan waktu.
EFA menilai terdapat dua keputusan penting yang layak mendapat perhatian. Pertama, gol Mesir yang dianulir setelah tinjauan VAR. Kedua, dugaan pelanggaran Alexis Mac Allister dalam proses terciptanya gol kemenangan Argentina yang dinilai tidak ditinjau kembali melalui VAR.
Seusai pertandingan, pelatih Mesir Hossam Hassan turut melontarkan kritik tajam. Ia menilai timnya menjadi korban ketidakadilan dan bahkan mempertanyakan objektivitas penyelenggaraan turnamen.
“Kami tampil lebih baik daripada juara bertahan — lebih baik dalam segala hal — tetapi hasilnya dipengaruhi oleh faktor internal di lapangan dan faktor eksternal di luar lapangan,” kata Hassan.
Ia kemudian menambahkan, “Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia di kompetisi ini. Mungkin mereka ingin Messi tetap berada dalam persaingan.”
Lionel Messi sebelumnya mencetak gol penyama kedudukan yang mengubah skor menjadi 2-2 sebelum Argentina memastikan kemenangan melalui gol Fernández.
Argentina selanjutnya dijadwalkan menghadapi Swiss pada babak perempat final Piala Dunia.
Sementara itu, Hossam Hassan mengaku sangat kecewa dengan hasil pertandingan hingga menyatakan tidak akan lagi mengikuti sisa turnamen.
“Saya berjanji, mulai saat saya kembali, saya tidak akan melanjutkan mengikuti pertandingan Piala Dunia FIFA ini,” ujarnya.
“Ini adalah perjuangan batin saya, penolakan batin saya, cara saya sendiri untuk bersuara dan membela diri.”
“Saya tidak akan menonton, satu pun pertandingan dari turnamen ini.”
Hingga berita ini ditulis, FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait protes yang disampaikan Federasi Sepak Bola Mesir. [faw/suf]






