Gresik (beritajatim.com)- Anggota holding Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik (PG) menyiapkan 508.216 ribu ton pupuk bersubsidi yang siap ditebus petani. Dari jumlah ini, rinciannya pupuk Urea sebanyak 77.978 ton, NPK sebesar 405.468 ton , dan pupuk Organik 24.770 ton.
Direktur Manajemen Risiko Petrokimia Gresik, Johanes Barus mengatakan, ketersediaan pupuk bersubsidi tersebut mendukung kebijakan baru tata kelola penyaluran pupuk.
“Stok pupuk yang kami sediakan siap ditebus petani untuk mendukung swasembada beras tahun 2028,” katanya, Kamis (31/7/2025).
Johanes menambahkan, melalui skema tata kelola pupuk bersubsidi yang baru diharap bisa mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani secara signifikan.
“Kebijakan baru ini telah memangkas 145 aturan dan persetujuan lintas Kementerian hingga kepala daerah. Saat ini hanya melibatkan Kementan, Pupuk Indonesia, dan gapoktan serta kios atau pengecer. Tata kelola baru ini memastikan pupuk bersubsidi lebih tepat sasaran serta mudah diakses oleh petani,” imbuhnya.
Sebagai informasi tata kelola pupuk bersubsidi diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 15 Tahun 2025 sebagai peraturan pelaksanaannya.
Aturan tersebut menyesuaikan kebijakan. Dimana, penyalurannya ke Pelaku Usaha Distribusi (PUD) sampai ke Penerima Pupuk di Titik Serah (PPTS). Untuk mendukung pelaksanaan ini, dilakukan pembaruan fitur penebusan di i-Pubers.
“Kebijakan tersebut telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas petani dan kinerja produksi beras nasional sepanjang tahun 2025. Hal ini terlihat pada lonjakan serapan beras Perum Bulog yang mencapai 1,3 juta ton hanya dalam satu bulan,” ungkap Johanes.
Masih menurut Johanes, secara nasional penyaluran pupuk bersubsidi nasional per 24 Juli 2025 mencapai 4,27 juta ton, mencakup 44,7% dari total alokasi pemerintah 9,55 juta ton.
“Kami siap menjalankan mekanisme baru penyaluran pupuk bersubsidi, memastikan efisiensi dan ketepatan sasaran hingga ke titik serah, juga menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi,” urainya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno menuturkan, problem pertanian yang selama ini banyak muncul adalah pupuk. Problem tersebut diharap teratasi dengan adanya perbaikan-perbaikan pada tata kelolanya.
“Tahun lalu sudah ada perbaikan-perbaikan, dan pada tahun 2025 petani sudah bisa menerima pupuk bersubsidi dengan baik. Sampai bulan Juli capaian pupuk di Jatim mulai Urea, NPK, pupuk Organik sudah 46,05% paling besar di Indonesia,” tutup Heru. [dny/but]






