Lamongan (beritajatim.com) – Kalau kebanyakan masyarakat biasa melakukan ngabuburit dengan jalan-jalan dan berburu takjil ke pasar, maka berbeda dengan suasana warga Solokuro Kabupaten Lamongan. Mereka ngabuburit berburu buah melon Kinanti dengan langsung memetik dari pohonnya.
Ngabuburit atau menunggu adzan maghrib dengan cara ini tampak seru dan mengasyikkan. Di greenhouse yang telah disediakan, warga bisa memetik melon secara langsung, dengan harga yang tentu jauh lebih murah.
Pemilik wisata petik buah melon Golden Kinanti ini, Yudi Amin mengaku bahwa greenhouse yang ia tanami melon Kinanti ini memiliki luas 600 meter. Ia sengaja membuka lahannya sebagai ajang ngabuburit saat panen perdana, agar warga bisa merasakan sensasi petik buah langsung dari kebun.
“Kita di sini tengah panen raya sehingga kita gelar petik langsung, seenaknya, sesukanya, sesuai keinginan,” kata Yudi Amin, warga asal Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro Lamongan, Kamis (13/4/2023).
https://beritajatim.com/ekbis/2-880-paket-sembako-ludes-di-pasar-murah-ramadhan-lamongan/
Dalam mengelola wisata petik buah melon ini, Yudi Amin berkata, pihaknya dibantu oleh puluhan pemuda karang taruna (kartar) desa setempat. Dia menyebut, lahan green house miliknya itu dibuka setelah 70 hari sejak pertama kali menanam.
“Kurang lebih ada 1.300 buah melon yang bisa dipetik langsung oleh para pengunjung. Buah melon ini rasanya tidak diragukan lagi, sangat cocok untuk berbuka puasa,” bebernya.
Yudi bersyukur, wisata petik buah melon yang ia gagas kini ramai diminati warga dan diserbu pengunjung. Warga yang menyerbu greenhouse ini tidak hanya datang dari desa setempat, melainkan juga dari desa-desa sekitar.
“Modal awal yang dibutuhkan dulu sekitar Rp 80 juta dan alhamdulilah omset sudah bisa dihitung dan sudah bisa menutupi modal, kalau omset sekitar Rp 30 juta,” akunya.
Bahkan saking ramainya pengunjung yang datang itu, Yudi bersama Kartar yang mengelola kebun greenhouse itu harus menolak permintaan melon dari luar Lamongan. Pasalnya, Yudi dan Kartar lebih mengutamakan warga setempat dulu.
“Biar warga sini dulu yang menikmati dan merasakan buah melon Golden Kinanti ini, sambil menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” tandasnya.

Salah satu pengunjung wisata petik buah melon Kinanti, Suparti berkata bahwa dirinya antusias untuk datang ke wisata ini lantaran penasaran. Menurutnya, melon Golden Kinanti ini baru pertama kalinya dibudidayakan di Desa Tenggulun.
“Kami suka ke sini, karena selain baru pertama kali ada di Desa Tenggulun, harganya lebih murah dan bisa petik sendiri sepuasnya,” ujar Suparti, warga asli Desa Tenggulun.
Suparti membenarkan jika harga buah melon di wisata petik ini lebih murah jika dibandingkan dengan harga di pasaran pada umumnya. Ia mendapatkan melon golden kinanti di wisata ini hanya Rp20 ribu per kilogram. Padahal, sebut Suparti, harga melon golden kinanti di pasaran masih sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogramnya.
“Saya beli melon di sini, sambil ngabuburit untuk nanti buka puasa. Enaknya itu kita bisa memetik sendiri sepuasnya, senang baru pertama kali, per kilo hanya Rp20 ribu, jauh lebih murah,” tutupnya.[riq/ted]






