Lamongan (beritajatim.com) – Musim kemarau basah yang melanda sejumlah wilayah berdampak serius terhadap aktivitas pertanian tembakau di Kabupaten Lamongan. Curah hujan yang masih terjadi beberapa kali memicu banyak bibit tembakau milik petani gagal tumbuh dan mati pada usia dini.
Menghadapi kondisi ini, para petani di Desa Kuwurejo, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan mulai berinovasi dengan menerapkan sistem tanam menggunakan media pot tray sebagai langkah antisipasi agar tidak mengalami gagal tanam.
Yoyok, salah seorang petani setempat, menuturkan dalam kondisi cuaca yang tak menentu seperti saat ini, penanaman tembakau tidak lagi bisa dilakukan secara konvensional. Ia menjelaskan proses penanaman tembakau biasanya diawali dengan penyemaian bibit di lahan terbuka.
Setelah berusia sekitar 25 hari, bibit tembakau yang sehat akan diseleksi lalu dipindahkan ke pot tray berisi campuran tanah gembur dan pupuk.
“Proses ini berlangsung sampai 15 hari ke depan dengan perawatan rutin dan penyiraman berkala, supaya akar tanaman menjadi lebih kuat dan siap ditanam di lahan pertanian,” ujar Yoyok, Selasa (2/7/2025).
Untuk lahan tanam, para petani juga telah menyiapkan lubang tanam sebagai lokasi penanaman bibit yang berasal dari pot tray. Metode ini diyakini lebih tahan terhadap fluktuasi cuaca dan mampu menekan potensi gagal tanam yang disebabkan tingginya intensitas hujan di masa kemarau basah seperti sekarang.
Menurut Yoyok, penerapan sistem pot tray pada penanaman tembakau cukup efektif di tengah ketidakpastian cuaca yang terjadi belakangan ini.
“Dengan sistem pot tray ini, kami bisa menghindari kerugian lebih besar karena tembakau tidak mudah mati saat masih muda,” katanya. [fak/beq]






