Lamongan (beritajatim.com) – Para petani tebu di Kabupaten Lamongan diajak untuk terus berinovasi dalam menanam tebu agar hasil produksi yang diperoleh semakin premium serta meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Hal itu terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan, mengingat keterampilan dan adaptasi petani sangat dibutuhkan di tengah era teknologi yang sedang mengalami kemajuan begitu pesat.
Di hadapan para petani tebu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang berkesempatan untuk melakukan panen tebu, di Desa Tugu, Kecamatan Mantup menyampaikan bahwa inovasi para petani tebu ini juga dapat mengatasi permasalahan pupuk.
“Tebu merupakan salah satu potensi di bidang pertanian Lamongan, maka dari itu Pemerintah Kabupaten Lamongan mengajak para petani lebih berinovasi saat melakukan penanaman mulai dari penggunaan alat, pembuatan pupuk organik, dan lain sebagainya,” ungkapnya, Rabu (5/7/2023).
Tak cukup itu, tutur Yuhronur, pihaknya bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lamongan juga akan terus mendampingi petani tebu melalui sejumlah pelatihan, guna memaksimalkan kapasitas petani.
“10 dari 27 kecamatan di Lamongan yang merupakan daerah penghasil tebu itu adalah Kecamatan Mantup, Kembangbahu, Tikung, Sambeng, Ngimbang, Sukorame, Bluluk, Modo, Kedungpring dan Sugio,” sebutnya.
Kepala DKPP Lamongan Moh. Wahyudi melaporkan bahwa luas tanaman tebu di Kabupaten Lamongan pada tahun 2022 telah mencapai 3.601 hektar.
Dari luasan lahan tebu itu, menurut Wahyudi, dapat menghasilkan 226.994 ton gula dengan provitas 613 kuintal per hektar. Kualitas yang dihasilkan pun terbilang sangat bagus karena rendemennya mencapai rata-rata 7,5 persen.
“Potensi tebu di Lamongan dapat dikatakan besar, karena penghasil tebu tersebar di 10 kecamatan dan tentu ditunjang dengan kualitas yang bagus jika dilihat dari rendemennya,” beber Wahyudi saat melakukan panen tebu di lahan seluas 2,4 hektar.
Mengenai pemilihan varietas tebu ini, sambung Wahyudi, mayoritas petani menggunakan Bulu Lawang (BL), yang mana termasuk kategori tebu akhir (usia penanaman 1 tahun).
“Varietas ini sangat cocok untuk daerah tadah hujan dengan tekstur tanah liat,” tambahnya.
Sementara itu, Foreman Wilayah Mantup, Indra mengatakan bahwa pada tahun ini penanaman tebu di wilayah Mantup terpantau aman. Hasil panen tanaman tebu di Mantup juga terhindar dari hama.
“Luas lahan tebu di Desa Tugu ini ada 50 hektar yang dikelola oleh 3 petani. Tahun ini berhasil panen karena kita aman dari serangan hama. Sebenarnya, yang menjadi faktor gagal panen adalah cuaca dan hama,” pungkasnya. [riq/nap]






