Madiun (beritajatim.com) – Petani cabai rawit di Desa Kertosari, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, ngenes. Tanaman mereka terkena hama dan harga jualnya anjlok parah.
Ali Mahrus, salah seorang petani cabai rawit desa setempat menceritakan jika kondisi tanamannya mengering. Pohon dan buahnya mengering karena terkena penyakit keriting. Ada juga yang kena hama Fusarium yang bikin tanaman jadi layu.
Ada pula yang terserang penyakit Gemini. Dia terpaksa mencabut beberapa tanaman agar tidak merembet ke yang lain. Juga, dia memanen buah yang masih hijau agar tak semakin rugi.
Saat ini, harga jual di tingkat petani hanya Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Padahal, normalnya mereka menjual harga Rp30.000 per kilogram.
Meski harga anjlok dan taman kena hama, hasil panen kali ini bisa dikatakan tidak buruk. Dari 2 petak lahan dengan 4.000-an tanaman cabai, masih bisa mendapatkan beberapa kuintal. “Sebagian ada yang ambil langsung ke sini. Kirimnya ke Dolopo. Harganya minim, dua kali petik hanya mendapat keuntungan Rp 30.000,” kata Ali, Rabu (19/7/2023).
Dengan untung cuma Rp30.000 per dua kali panen itu sudah rugi. Karena tak sebanding dengan untuk melindungi tanaman cabai dari hama. “Habis biaya sampai ratusan ribu rupiah, buat mencegah serangan hama. Harga jual anjlok, pupuk dan obat-obatan juga mahal. Kalau dibiarkan lama-lama kering dan mati. Penanganannya harus cepat dicabut agar tidak menyebar ke tanaman yang lain,” sambung Ali.
Beruntung, beberapa penyakit bisa dikendalikan dan diantisipasi. Sehingga, tanaman pulih kembali. Namun, dia mengharap agar harga jual kembali normal. “Agar petani bisa dapat untung, dan sepadan dengan biaya yang telah dikeluarkan,” pungkasnya. [fiq/kun]
BACA JUGA:






