Jember (beritajatim.com) – Kampung Durian di Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memang mempesona. Dua bupati meresmikan dalam selang waktu enam tahun. Setelah sempat diresmikan Bupati Faida pada 2019, kini Bupati Muhammad Fawait meresmikannya kembali.
Desa Pakis disebut Kampung Durian, karena ada ribuan pohon durian tumbuh di pekarangan rumah warga dan wilayah hutan yang berdekatan. Pemerintah Kabupaten Jember pada masa Bupati Faida melibatkan Perum Perhutani Jember dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) setempat untuk menjadikan Kampung Durian sebagai destinasi wisata.
Situs kominfo.jatimprov.go.id mencatat, peresmian oleh Bupati Faida ini ditandai dengan pembukaan selubung kain papan nama dan penandatanganan prasasti, Kamis (21/3/2019).
Setelah Bupati Hendy Siswanto menjabat, Kampung Durian menjadi bagian dari rute destinasi wisata yang diselenggarakan Angkutan Wisata Jember (AWJ). AWJ adalah sebuah komunitas pemberdayaan pengemudi angkutan umum untuk kepentingan pariwisata yang diresmikan Bupati Hendy pada 15 September 2021.
“Kampung Durian menarik karena wisatawan bisa membeli durian dengan harga lebih murah daripada harga pasar di sana,” kata Manajer Angkutan Wisata Jember Ahmad Busairi.
Kini setelah Bupati Muhammad Fawait menjabat, peresmian Kampung Durian kembali dilakukan pada 27 Oktober 2025 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan). Acara peresmian diawali dengan kirab air dari tujuh sumber mata air di wilayah Jember bagian utara.
“Pemkab Jember ke depan akan men-support, salah satunya lewat ketersediaan infrastruktur jalan dan lain sebagainya,” kata Bupati Fawait.
Kampung Durian ini, menurut Fawait, bisa juga menjadi salah satu destinasi andalan dalam bingkai kerja sama aglomerasi dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Situbondo.
“Jember dengan jumlah penduduk besar tidak cuma jadi pasar saja, tapi punya destinasi wisata yang bisa dikunjungi masyarakat di luar Jember, dari tiga kabupaten, atau minimal dari Jember sendiri,” kata Fawait.
Pengembangan destinasi wisata, menurut Fawait, bisa membantu untuk mengurangi kemiskinan di kawasan gunung, tepi hutan, dan kawasan pesisir. “Tentu kita akan berkolaborasi dengan semua kabupaten dan kota. Tapi hari ini kita mulai dengan Situbondo dan Bondowoso,” katanya. [wir]






