Pasuruan (beritajatim.com) – Kecamatan Tutur kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai sentra flora di Jawa Timur melalui keberadaan Kampung Bunga Krisan di Dusun Kadipaten. Kawasan ini menjadi hamparan warna-warni bunga yang dikenal sebagai “Ratu dari Timur” karena kualitas dan keindahannya yang memikat pasar nasional.
Para petani di lereng pegunungan ini mengelola lahan hingga berhektar-hektar dengan kapasitas tanam mencapai ratusan ribu batang. Keberhasilan budidaya ini tidak hanya mempercantik desa, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi utama bagi warga lokal di Desa Tutur.
“Kami selalu memanen setiap hari sesuai slogan kami yaitu tiada hari tanpa bunga merekah,” ujar salah satu petani krisan, Sudartono.
Setiap harinya, ribuan ikat bunga dikemas dengan rapi untuk memenuhi permintaan yang terus stabil dari berbagai kota besar di Indonesia. Mulai dari Malang, Surabaya, hingga merambah pasar Jakarta dan Bali menjadi tujuan utama pengiriman bunga segar ini.
Untuk menjaga kepuasan pelanggan, petani menanam hingga 30 varietas yang berbeda guna menyediakan pilihan warna yang beragam. Strategi ini terbukti ampuh karena pasar dekorasi dan hobi selalu mencari jenis krisan yang unik dan memiliki daya tahan lama.
“Saya menjualnya dalam bentuk ikat dengan harga Rp16 ribu untuk semua jenis krisan yang saya tanam,” tambah Sudartono.
Rahasia keindahan bunga krisan dari Tutur terletak pada teknik perawatan yang intensif mulai dari pengolahan media tanam hingga pemupukan rutin. Ketelitian dalam mengatur jarak tanam juga menjadi faktor penentu agar kelopak bunga dapat merekah dengan sempurna dan simetris.
Kesuksesan bisnis bunga ini juga berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja lokal yang membantu proses produksi dari hulu hingga ke hilir. Kolaborasi antara kelompok tani dan masyarakat sekitar menciptakan ekosistem pertanian modern yang berkelanjutan di Kabupaten Pasuruan. [ada/beq]






