Magetan (beritajatim.com)– Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, produksi sandal kulit di sejumlah home industri di Kabupaten Magetan justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Berkurangnya pesanan disebut dipicu persaingan penjualan melalui platform online atau marketplace.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah sentra perajin sandal kulit, salah satunya milik Agus Juwanto, warga Jejeruk, Desa Candirejo, Magetan. Ia mengaku peningkatan pesanan menjelang Lebaran tahun ini tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Agus menyebut, pada Lebaran 2026, kenaikan pesanan hanya berkisar 10 hingga 20 persen dibandingkan hari biasa. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mampu mencapai peningkatan hingga 30 sampai 40 persen.
Menurutnya, maraknya penjualan melalui toko online menjadi salah satu faktor utama menurunnya permintaan dari pasar lokal. Selain itu, daya tahan sandal kulit yang relatif lama juga membuat konsumen tidak sering melakukan pembelian ulang.
“Untuk tahun ini produksi hanya meningkat sedikit, sekitar 10 sampai 20 persen. Kalau tahun kemarin bisa sampai 30 persen lebih. Mungkin dampak dari penjualan online yang sekarang ramai, sehingga pesanan pasar lokal agak menurun,” ujar Agus, Selasa (17/3/2026)
Dalam sehari, Agus mampu memproduksi sekitar 20 hingga 30 pasang sandal kulit. Produknya dipasarkan melalui toko-toko di pasar lokal, seperti Pasar Baru, kawasan Jalan Sawo, hingga area wisata Telaga Sarangan.
Selain penjualan offline, ia juga mulai merambah pemasaran secara daring. Meski demikian, kontribusi penjualan online belum sepenuhnya mampu menutup penurunan permintaan dari pasar tradisional.
Dari sisi harga, Agus menyebut terjadi kenaikan sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per pasang. Sandal yang diproduksi menggunakan bahan kulit sapi jenis nabati yang dikenal lebih awet.
Sementara itu, pemasaran sandal kulit produksi perajin Magetan hingga kini masih didominasi pasar lokal, terutama melalui toko-toko di kawasan pasar tradisional dan destinasi wisata. [fiq/aje]






