Surabaya (beritajatim.com) – Munculnya fenomena baru medium internet telah membawa perubahan sangat signifikan dalam dunia penyiaran radio di Indonesia, termasuk di Surabaya. Sehingga, para pengelola lembaga penyiaran radio dituntut masuk dalam cara kerja yang profesional.
Hal itu disampaikan oleh Harliantara, Presiden FDR Indonesia (Forum Diskusi Radio) sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo (FIKOM Unitomo) saat berdiskusi di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, pada 12-14 Juli 2023 kemarin.
Harli mengatakan, saat ini pengelola lembaga penyiaran radio dituntut dalam cara kerja profesional termasuk penggunaan teknologi, sistem antena, transmisi, dan audio mengalami perubahan yang signifikan.
“Perubahan ini sangat cepat sehingga menimbulkan tuntutan baru dalam manajemen lembaga penyiaran radio dan perlu diantisipasi dengan tepat untuk menjaga dan memenuhi kepercayaan khalayak,” ujar Harli ditulis Sabtu (15/7/2023).
Harli menyebut bahwa situasi apapun dalam perubahan teknologi, radio selalu beradaptasi dalam upaya memaksimalkan kinerja dalam pengelolaan, khususnya menggarap pangsa pasar, yaitu memuaskan khalayak sejalan dengan perubahan yang terjadi pada masyarakat.
BACA JUGA:
Fikom Unitomo Buka Pendaftaran untuk S1 dan S2, Begini Keunggulannya
Menurutnya, penyiaran radio tidak akan pernah mati, sekalipun perubahan teknologi penyiaran terus berlangsung. Bahkan, literatur pun menyebut bahwa kurang tepat jika internet dikatakan sebagai pesaing media penyiaran radio.
“Namun lebih tepat internet disebut sebagai mitra, karena lembaga penyiaran radio menggunakan internet sebagai layanan tambahan media baru untuk memperluas jangkauan siaran dari lokal menjadi global,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurutnya pemanfaatan teknologi komunikasi internet oleh lembaga penyiaran radio saat ini dan ke depan adalah radio dengan sistem simulcast, yaitu siaran di dua saluran broadcasting analog dan digital.
“Saat ini yang direkomendasikan dalam pengelolaan radio adalah dengan sistem simulcast sebagai saluran radio ke depan dimana siaran analog dan siaran digital bisa disiarkan bersama sebelum radio diberlakukan Analog Switch off,” tandasnya.
FDR Indonesia merupakan ajang individu berapresiasi untuk diskusi dan tukar informasi tentang penyiaran radio. Forum ini diharapkan menjadi ‘the real radio discusion or under discussion’.
BACA JUGA:
Di Unitomo Surabaya, Rocky Gerung Tekankan Demokrasi Konstitusional
Artinya, lebih fokus tentang radio. Paling tidak, sebagai alternatif memberikan masukan yang sehat kepada stakeholder industri radio.
Diskusi yang digelar di Surabaya ini, adalah hasil kerjasama dengan Direktorat Penyiaran Kemenkominfo RI untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas SDM dan pemberdayaan penyiaran radio. Pesertanya adalah lembaga penyiaran radio yang terpilih dan memiliki izin resmi dari pemerintah.
Forum tersebut juga menghadirkan narasumber yang berkompeten dengan sejumlah tema seperti manajemen radio, marketing, program, dan teknologi radio yang terus berkembang ke arah digital. [ipl/beq]






