Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi yang tertinggi di Sekarkijang (Seluruh Eks Karesiden Besuki dan Lumajang) mengalahkan Kabupaten Banyuwangi. Penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) jadi kunci.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kabupaten Jember tumbuh 4,53 persen pada 2022. Lebih baik daripada tahun sebelumnya yang mencatatkan angka pertumbuhan empat persen. Sementara ekonomi Banyuwangi tahun lalu tumbuh 4,43 persen, lebih baik dari tahun sebelumnya yang tumbuh 4,09 persen.
Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi tahun lalu sama dengan Lumajang. Sementara itu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Situbondo 4,39 persen dan Kabupaten Bondowoso 3,51 persen.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi di Jember ada pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan yakni 16,07 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang tumbuh sebesar 5,88 persen.
Perekonomian Kabupaten Jember berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2022 mencapai Rp 88,08 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 57,17 triliun..
Dilihat dari sisi produksi, lanjut Kepala BPS Tri Erwandi, struktur PDRB Kabupaten Jember tahun 2022 didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 25,99 persen. Dari sisi pengeluaran, lomponen pengeluaran konsumsi rumah tangga memberikan andil terbesar hingga 69,38 persen.
“Pertumbuhan ekonomi di Jember tak terlepas dari basis ekonomi. Terbanyak di Jember memang petani. Industri juga ada yang besar seperti pabrik gula. Perdagangan lebih terlihat lagi, terutama di seputar alun-alun atau sepanjang Jalan Gajah Mada, kuliner begitu massif,” kata Erwandi, Senin (3/4/2023).
Sementara itu anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo melihat ada beberapa faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Jember menyalip Banyuwangi. “Jember ini adalah pusat belanja di daerah tapal kuda. Dengan adanya mall, hotel, restoran, di Jember yang di tempat lain di Tapal Kuda tidak ada, artinya pusat belanja, hiburan, makanan adanya di Jember,” katanya.
Keberadaan pusat belanja ini diikuti aktivitas usaha mikro kecil menengah (UMKM). “UMKM digerakkan bupati, di setiap event harus ada UMKM, termasuk menggerakkan ekonomi di alun-alun walau diperdebatkan, juga memicu pertumbuhan,” kata Nyoman.
Keunggulan Jember lainnya adalah ditempati tiga perguruan tinggi negeri dan sejumlah perguruan tinggi swasta. “Ini juga menjadi pusat perputaran ekonomi, karena di situ ada mahasiswa pendatang yang menerima kiriman uang setiap bulan,” kata Nyoman.
Adanya gerakan hilirisasi sektor pertanian, menurut Nyoman, juga menambah aktivitas ekonomi yang memicu pertumbuhan. “Jadi sebenarnya jika Jember bergerak dengan potensinya, otomatis pertumbuhannya akan lebih tinggi dibandingkan daerah lain, terutama di Tapal Kuda Jawa Timur,” katanya.
“Apalagi kalau itu dikelola dengan terobosan-terobosan yang lebih kreatif dan inovatif, seharusnya Jember bisa mengimbangi atau mendekati Surabaya. Levelnya Jember ini kan Malang dan Kediri,” kata Nyoman.
Sebelum pandemi, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2019 adalah 5,55 persen dan Jember 5,51 persen. “Banyuwangi lebih tinggi karena pergerakan ekonominya tinggi dengan berbasis pariwisata, banyak event yang pasti melibatkan UMKM, orang datang berwisata dan menghabiskan uang di sana. Banyuwangi begitu massif, sedangkan Jember tahu sendiri dengan kepemimpinan yang dulu, hal itu tidak ada,” kata Nyoman.
“Dengan pemimpin yang baru ini (Bupati Hendy Siswanto, red), anggaplah gerakannya normal saja, dengan potensi yang lebih besar, Jember akan mendekati Banyuwangi. Apalagi pemimpin sekarang ini relatif normal tapi plus, dengan terobosan-terobosan di UMKM tadi,” kata Nyoman.
Nyoman menyarankan Pemerintah Kabupaten Jember untuk mulai menata sektor-sektor ekonomi. “Ketika terobosan sudah dilakukan dan ekonomi terbukti tumbuh, berarti kan berikutnya harus ada penataan, sehingga ekses negatifnya tidak ke mana-mana. Kita mengapresiasi pertumbuhan ekonomi itu. Memang seharusnya begitu,” katanya.
Struktur PDRB berdasarkan lapangan usaha untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada 2022 cenderung menurun yakni 25,99 persen dibandingkan 2020 (26,91 persen) dan 2021 (26,01 persen).
“Kalau bicara pertanian adalah melakukan intensifikasi agar petani bisa berbudidaya lebih baik dan kreatif, sehingga lebih produktif. Kedua, hilirisasi harus semakin diperkuat. Bagaimana petani atau pekebun tidak menjual bahan mentah, tapi olahan. Ini tidak bisa dilakukan sendiri, tapi dilakukan oleh gabungan kelompok atau koperasi. Mereka bisa didorong dan difasilitasi bergerak di sektor hilir,” kata Nyoman.
Jika sektor hilir pertanian bisa digarap oleh komunitas petani, lanjut Nyoman, akan meningkatkan kekuatan ekonomi Jember. “Contoh kopi kita luar biasa. Tapi kita tidak tahu produknya, karena kopi mentah dikirim ke Malang dan Surabaya,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember diharapkan bisa memperkuat gerakan hilirisasi ini. “Sistem perizinan sudah dipermudah, tapi pendampingan ke pelaku usaha yang menuju ke usaha olahan harus dilakukan agar kemudahan itu bisa dirasakan. Pendampingannya harus kuat,” kata Nyoman. [wir]






