Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) meluncurkan Disability Inclusion Metric (DIM). Peluncuran itu dilakukan secara resmi bersama Menpora RI Zainuddin Amali.
Rektor UNESA Prof Dr Nurhasan memastikan bahwa sejumlah institusi, utamanya perguruan tinggi di dunia akan terlibat dalam pemeringkatan.
Diketahui, UNESA DIM adalah indeks atau pemeringkatan kampus inklusif ramah disabilitas di Indonesia dan dunia.
“Teman-teman di pemeringkatan dan klasterisasi sudah jauh-jauh hari sebelum peluncuran ini berkoordinasi dengan perguruan tinggi di dunia dan kepada berbagai mitra kuat UNESA di luar. Undangan partisipasi sudah terkirim dan ini tinggal jalan,” kata Nurhasan, Selasa (16/8/2022).
Ia berharap, UNESA DIM bisa memotivasi institusi dalam berlomba-lomba menjadi kampus yang ramah disabilitas. Tentunya, ini tidak hanya sekadar perankingan, tapi bagaimana institusi benar-benar menciptakan ruang yang inklusif sehingga semua bisa bermimpi dan meraih prestasi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unesa-surabaya”]
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNESA Dr Sujarwanto menerangkan, UNESA DIM menyediakan indikator sekaligus mengukur tingkat kualitas inklusi disabilitas di suatu organisasi atau lembaga.
Sujarwanto mengatakan, DIM menjadi indikator rujukan pengembangan kualitas inklusi disabilitas dan menjadi bahan evaluasi tingkat kualitas inklusi disabilitas di suatu lembaga.
“Ini sebagai komitmen UNESA sebagai kampus ramah disabilitas dan ikut mewujudkan kampus di Indonesia dan dunia yang SETARA (sustainable, equality, accountable dan responsible),” katanya.
Sedangkan Ketua Satuan Klasterisasi dan Pemeringkatan Perguruan Tinggi UNESA Nadi Suprapto mengatakan bahwa UNESA DIM mulai bergulir tahun ini. Tujuannya untuk mewujudkan kampus yang setara dan ramah disabilitas.
“Kampus yang inklusif adalah kampus yang memastikan bahwa setiap mahasiswanya dapat menghadiri, mengikuti, berpartisipasi dan berprestasi di kampus tanpa diskriminasi. Itu yang kita wujudkan tidak hanya di Indonesia tetapi di dunia,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan, UNESA DIM merupakan solusi sekaligus jawaban terhadap tingginya partisipasi institusi di dunia dalam berbagai pemeringkatan. Data menunjukkan peserta QS WUR 2022 mencapai 5.500 institusi di dunia. Times Higher Education (THE) diikuti 2.200 perguruan tinggi. Bahkan pemeringkatan di Indonesia diikuti hampir seribu partisipan.
Di sisi lain, UNESA DIM juga mendapat apresiasi dari berbagai ahli luar negeri, di antaranya datang dari Professor of Special and Inclusive Education, University of Sydney-Australia, Prof David Evans dan Professor of Education in The Open University, Prof Kieron Sheehy. Keduanya bahkan memberikan penguatan terhadap rancangan indikator UDIM sehingga bisa menjadi acuan universal bagi seluruh organisasi dan lembaga di dunia. (ted)






