Surabaya (beritajatim.com) – Manajemen Persebaya Surabaya mengirim surat kepada PSSI pada Senin (4/3/2024). Surat dalam rangka menanggapi insiden yang melibatkan pemain asing mereka, Bruno Moreira, dan pemain PSS Sleman, Wahyudi Hamidi, dalam pertandingan pada Minggu, 3 Maret 2024.
Ram Surahman, Sekretaris Persebaya Surabaya, meminta Ketua PSSI untuk mengambil langkah yang tepat dan terukur terkait insiden tersebut.
“Ada dua hal yang kami minta PSSI untuk serius memperhatikannya. Pertama, terkait tindakan yang dilakukan oleh pemain PSS Sleman, Wahyudi Hamisi. Pada menit ke-19, pemain dengan nomor punggung 33 ini melakukan tindakan keras yang mengarah pada cedera lawan,” ungkap Ram Surahman.
Lebih lanjut, Ram menjelaskan bahwa dalam kejadian tersebut, Wahyudi Hamisi dengan sengaja menendang kepala Bruno Moreira, yang saat itu terjatuh, dengan dalih merebut bola. Meskipun wasit yang berada di tempat kejadian hanya memberikan kartu kuning.
“Tindakan yang dilakukan oleh Wahyudi Hamisi ini termasuk dalam kategori ‘Violent conduct’, yang seharusnya mendapatkan kartu merah,” tambahnya.
Peristiwa ini telah diunggah di akun media sosial Indosiar TV dan memicu reaksi negatif dari netizen atas perilaku Wahyudi Hamisi.
“Bagi kami, ini seperti mengulangi momen mengerikan dalam Kompetisi Liga 1 tahun 2018/2019, di mana Wahyudi Hamisi, yang saat itu bermain untuk Borneo FC, melakukan pelanggaran yang mengakibatkan Robertino Pugliara terluka dan harus menyelesaikan karir sepakbolanya,” tambah Ram.
Selain itu, manajemen Persebaya juga melaporkan kurangnya keputusan tegas dari wasit Ginanjar Rahman, yang cenderung abai dalam menerapkan aturan pertandingan.
“Ini menyebabkan pertandingan berlangsung keras dan kasar, dengan beberapa insiden antara pemain kedua tim. Sebanyak 11 kartu kuning dikeluarkan dalam pertandingan ini, dengan 6 kartu kuning untuk pemain PSS Sleman dan 5 kartu kuning untuk pemain Persebaya Surabaya,” pungkasnya. [way/but]






