Tidak ada yang istimewa di pekan ke-33 Liga 1 Musim 2023-24. Hanya rutinitas biasa. Persebaya kembali kalah di Gelora Bung Tomo Surabaya, Rabu (24/4/2024). Kali ini dari Bali United dengan skor 0-2.
Setelah dibobol lima gol oleh tiga mantan pemain saat melawan Dewa United dan Persib Bandung, Persebaya kembali dibobol satu lagi mantan: Irfan Jaya pada menit 35. Privat Mbarga melengkapi kemenangan Bali United pada menit 73.
Kekalahan itu menempatkan Persebaya di peringkat 12 dengan 39 angka. Posisi Persebaya bisa turun ke peringkat 13 atau 14, jika PSS Sleman dan Arema menang pada pertandingan terakhir mereka, sementara Persebaya digulung Persik di kandang sendiri, Minggu (28/4/2024).
Satu-satunya hal istimewa mungkin adalah tiket. Setelah sempat menjadi kontroversi yang memicu ketegangan antara manajemen dan Bonek pada tengah musim karena dianggap mahal, tiket gratis dalam pertandingan kandang Persebaya justru tersedia pada pengujung musim ini.
Persebaya menggratiskan tiket pertandingan melawan Persik bagi penonton yang membeli tiket pertandingan melawan Bali United. Ada Manajemen menyebut penggratisan tiket itu sebagai bentuk apresiasi terhadap loyalitas Bonek. Namun kita tahu, penggratisan tiket adalah jalan keluar untuk menarik penonton agar mau memenuhi Gelora Bung Tomo, setelah Persebaya mengalami rentetan hasil buruk.
Hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Hanya 2.124 penonton yang hadir dalam pertandingan melawan Bali. Jumlah ini lebih sedikit daripada pertandingan kandang sebelumnya melawan Dewa United (4.500 penonton) dan Madura United (5.583 penonton).
Gelora Bung Tomo memang tak lagi keramat. Pertandingan kandang Persebaya tak lagi memantik minat Bonek untuk datang. Di luar musim ‘pandemi’ yang mengharuskan tanpa penonton, penonton Persebaya musim 2023-24 adalah yang tersedikit dibandingkan musim-musim sebelumnya.
Laman situs Transfermarkt mencatat, rata-rata jumlah penonton Persebaya dalam 16 pertandingan kandang musim ini hanya 8.953 orang. Bandungkan dengan Musim 2018 (28.536 penonton), Musim 2019 (16.472 penonton).
Rata-rata jumlah penonton pada musim 2022-23 memang hanya 6.276 orang. Namun pada saat itu, setelah Tragedi Kanjuruhan, sebagian pertandingan kandang Persebaya digelar tanpa penonton. Sebelum tragedi yang terjadi pada 1 Oktober 2022, pertandingan kandang Persebaya masih ditonton puluhan ribu orang, antara lain saat melawan Madura United (29.000 orang), melawan PSIS (20.127 orang), dan melawan Bali United (20.321 orang).
Musim 2023-24, pertandingan kandang yang dihadiri penonton terbanyak adalah saat melawan Arema (27 ribu orang). Sementara pertandingan yang paling sedikit disaksikan penonton di GBT adalah saat melawan Persikabo (1.601 orang).
Sejumlah pertandingan kandang menghadapi tim-tim besar dalam musim ini ternyata tak cukup menarik minat penonton. Pertandingan menghadapi Persija hanya dihadiri 9.180 orang penonton. Pertandingan melawan PSM Makassar hanya disaksikan 4.818 penonton. Begitu pula pertandingan melawan PSIS yang disaksikan hanya 4.250 penonton.
Sepinya penonton musim ini harus menjadi catatan manajemen Persebaya. Tipologi penonton Surabaya berbeda dengan penonton Liga Inggris atau Jerman. Tidak ada tradisi membeli tiket terusan setiap musim di sini. Sementara itu penonton di Surabaya ingin dihibur dengan kemenangan demi kemenangan. Rangkaian hasil buruk menurunkan minat orang datang ke GBT.
Silakan saja sebut penonton di Surabaya berkarakter glory hunter atau hanya datang jika Persebaya ‘menangan’. Tapi itulah kenyataannya. Belum lagi lokasi Gelora Bung Tomo yang jauh di ujung perbatasan dengan Gresik membuat penonton enggan datang hanya untuk menyaksikan kekalahan tim yang mereka dukung.
Penonton Surabaya melihat sepak bola sebagai hiburan yang menghilangkan penat. Mereka ingin menjadi bagian dari sebuah perayaan kemenangan. Dalam filosofi sepak bola, seseorang yang kalah dalam kehidupan menjadikan kemenangan tim sepak bola yang mereka dukung sebagai bagian dari kemenangan personal. Setidaknya mereka pernah merayakan sebuah kemenangan secara kolektif bersama penonton lainnya, disatukan dalam kegembiraan sebelum pulang dan kembali menemui kenyataan hidup sehari-hari.
Ada empat sumber pemasukan bagi klub sepak bola modern: bagi hasil hak siar, tiket penonton di stadion, penjualan merchandise, dan sponsor. Khusus di Indonesia, pendapatan dari penjualan tiket pertandingan kandang masih sangat dominan. Selain itu, banyaknya penonton juga bisa menjadi sarana promosi bagi klub terhadap sponsor dan investor.
Maka manajemen Persebaya harus memikirkan cara penonton mau datang lagi ke GBT musim depan. Membenahi komposisi dan kualitas skuat menjadi hal yang tak terelakkan. Penonton butuh Persebaya selalu menang di kandang. Hanya itu kunci kebahagiaan mereka.
Skuat yang baik hanya bisa dibentuk dengan keberanian menginvestasikan modal untuk merekrut pemain-pemain berkualitas yang tentunya mahal. Manajemen Persebaya tak boleh asal-asalan membeli pemain dengan patokan harga murah. Sustainability atau keberlanjutan dalam sepak bola tak hanya dalam urusan manajemen dan finansial, tapi juga tim.
Tim yang buruk dan tak memenangi apapun justru berdampak terhadap keberlanjutan klub. Nilai nominal klub sepak bola di pasar dibentuk oleh prestasi. Pemain-pemain berbakat dan hebat hanya mau datang memperkuat klub yang punya ambisi juara.
Manajemen juga harus mulai mempertimbangkan harga tiket yang terjangkau untuk penonton. Riset pasar perlu dilakukan sebelum mematok banderol. Sejauh ini, saya pernah iseng-iseng bikin polling soal harga tiket yang diikuti 200 orang di akun pribadi Twitter. Hasilnya 41 persen menghendaki harga tiket pada angka Rp 75 ribu untuk semua tribun kecuali VIP.
Jadi sudah saatnya manajemen Persebaya mendengarkan keinginan publik. Namun tentu saja, sebagai timbal balik, publik harus sadar: prestasi tentu mahal. Tiket penonton akan menjadi bagian dari sumber bagi Persebaya untuk membeli pemain-pemain berkualitas musim berikutnya.
Tidak perlu ada drama. Hanya jadi juara. [wir]






