Football teams are extraordinarily inventive in the ways they find to cause their supporters sorrow.
Tim-tim sepak bola punya daya cipta luar biasa dalam menemukan cara yang menyebabkan pendukung mereka berduka. Menderita. Bahkan trauma.
Pernyataan Nick Hornby dalam buku Fever Pitch ini tak ubahnya sebuah postulat yang bisa menjelaskan performa Persebaya dalam Liga 1 2024-25. Sebuah postulat yang bisa menjelaskan tentang kekecewaan dan harapan palsu.
Dari aspek peringkat klasemen, posisi keempat yang ditempati Persebaya jelas sebuah lompatan dibandingkan musim 2023-24. Musim lalu Bajul Ijo beberapa kali berada pada zona degradasi sebelum mengakhiri kompetisi dengan menduduki peringkat 12.
Namun musim ini seharusnya bukan sekadar lompatan menduduki empat besar. Delapan pekan memimpin Liga 1, bahkan berturut-turut pada pekan 12 hingga 17, Persebaya membuang peluang terbaik untuk menjuarai Liga Indonesia untuk ketiga kalinya sejak 2004.
Setelah begitu digdaya pada putaran pertama dengan hanya sekali kalah dalam 16 pertandingan, pasukan Paul Munster mendadak kolaps. Diawali kekalahan pada pekan ke-17, mereka hanya sekali menang dan sekali seri dalam tujuh pertandingan pertama putaran kedua. Di ujung musim, Persebaya hanya mencatatkan 56 angka dari 15 kemenangan, 11 hasil seri, dan delapan kekalahan.
Lawan-lawan Persebaya di Liga 1 agaknya sudah menemukan formula penangkal gaya pragmatis Paul Munster yang memang tidak cukup punya modal untuk memainkannya. Sebuah tim yang bergaya pragmatis, seharusnya memiliki pertahanan yang kokoh dan striker yang tajam dan bermain efektif saat melakukan serangan balik.
Masalahnya Persebaya tidak memiliki itu semua. Mereka hanya mencetak 41 gol dan kebobolan 38 gol.
Persebaya belum bisa menyelesaikan pekerjaan rumah untuk bertahan lebih rapat sejak 2018, kendati harus diakui jumah gol yang bersarang lebih sedikit dibandingkan musim 2018 (48 gol), 2019 (43 gol), 2022-23 (45 gol), dan 2023-34 (46 gol).
Hanya benteng pertahanan Persebaya musim 2021-2022 yang tampil lebih baik dengan kebobolan 35 gol. Namun itu tidak cukup untuk menjadi juara. Penyerangan yang baik memenangi pertandingan, pertahanan yang baik memenangi kompetisi.
Dari seluruh barisan pertahanan Persebaya, sejauh ini bek tengah Slavko Damjanovic yang tampil konsisten. Dengan menit bermain terbanyak (2.472 menit), dia mencatatkan rata-rata poin per pertandingan 1,83 dalam 29 laga, di atas rata-rata poin 1,65 milik Persebaya.
Secara statistik, ini menunjukkan pentingnya peran Slavko dibandingkan pemain bertahan lainnya. Bek tengah Kadek Raditya yang bermain 2.472 menit sepanjang musim, mencatatkan poin rata-rata per pertandingan 1,61. Riswan Lauhin mencatatkan poin rata-rata 1,89. Namun dia hanya bermain 450 menit alias 19 pertandingan. Dime Dimov hanya mencatatkan rata-rata poin 1.12 dalam 1.331 menit pertandingan.
Sementara itu di unit serang Persebaya, pemain sayap Bruno Moreira menjadi pencetak gol terbanyak dengan 10 gol, diikuti Flavio Sulva (9 gol), Francisco Rivera (8 gol), Mohammed Rashid (6 gol).
Tingkat ketergantungan Persebaya pada Francisco Rivera sangat tinggi. Bermain 2.497′ menit, dia mencatatkan rata-rata poin per pertandingan tertinggi yakni 1,9.
Bruno Moreira memang pencetak gol terbanyak Persebaya dalam 2.735′ menit. Namun rata-rata poin per pertandingannya hanya 1,61. Flavio Silva masih lebih baik. Penyerang asal Portugal itu sejauh ini mencatatkan diri sebagai pemain dengan penampilan terbanyak musim ini bersama Mohammed Rashid (33 pertandingan). Poin per pertandingan yang dilakoninya 1,67.
Sementara itu hanya tiga pemain lokal yang bisa mencetak gol. Malik Risaldi mencetak empat gol, Kasim Botan dan Rizky Dwi masing-masing satu gol. Namun cuma Malik yang tak hanya mencetak gol, tapi menyumbangkan asisst terbanyak kedua (5 assist),, terbanyak di bawah Rivera (7 assist).
Di luar urusan taktik, mentalitas Persebaya musim ini jadi sorotan. Kegagalan menjaga keunggulan hingga pertandingan berakhir menunjukkan rapuhnya mental pemain di bawah tekanan. Membuang kesempatan untuk memperbaiki klasemen juga menunjukkan masalah mentalitas ini tidak boleh diremehkan.
Musim depan Persebaya akan bermain dalam dua kompetisi, yakni Liga 1 dan kompetisi di level Asia Tenggara. Dibutuhkan mental yang kokoh agar bisa mengakhiri musim kompetisi dengan gelar juara, atau setidaknya, tidak hancur lebur di bawah tekanan.
Manajemen Persebaya harus peka terhadap kondisi mental pemain. Sejumlah blunder yang dilakukan Ernando Ari Sutaryadi dalam beberapa pertandingan musim ini seharusnya direspons bukan hanya sebagai persoalan teknis, tapi lebih pada urusan psikis. Tersingkirnya Ernando dari skuat tim nasional bisa jadi sangat berpengaruh terhadap mentalnya. Mengembalikan kepercayaan diri Ernando sebagai penjaga gawang lokal terbaik menjadi sangat penting.
Pembelian pemain yang tak sesuai harapan musim ini juga mengekspos kelemahan Persebaya. Dejan Tumbas yang sejak awal hendak diperankan menjadi protagonis di kotak penalti, justru lebih banyak menjadi gelandang defensif.
Tumbas pada akhirnya berperan sebagai ‘preman’ yang menghancurkan alur serangan lawan lebih baik daripada Gilson Costa. Reputasi permainan kerasnya divalidasi dengan enam kartu kuning dan kain putih di kepala untuk menghentikan pendarahan akibat benturan dengan pemain lawan.
Kita tidak banyak tahu soal cara manajemen Persebaya menentukan dan merekrut pemain. Namun kita berharap rekrutmen pemain ditentukan benar-benar atas pertimbangan taktik pelatih dan bukan pertimbangan finansial belaka.
Tidak ada pendukung Persebaya yang ingin menyaksikan postulat Hornby kembali terbukti musim depan. Mereka berharap Persebaya membuktikan diri sebagai tim yang tidak hanya memiliki daya kreasi untuk mengecewakan Bonek seperti musim ini, namun membuktikan diri sebagai tim yang bisa mengangkat trofi juara sebelum berusia satu abad. [wir]






