Hasil akhir dalam sebuah pertandingan sepak bola seringkali ditentukan dengan kalkulasi-kalkulasi yang jitu atau meleset dalam hitungan sepersekian detik. Di Paris. Juga di Surabaya.
Liverpool dalam kondisi tertekan saat bertandang menghadapi Paris St. Germain pada fase gugur Liga Champions, Kamis (6/3/2025). Hingga pertandingan akan berakhir, Liverpool sama sekali tidak pernah melesatkan bola tepat sasaran ke gawang Donaruma. Ini sebuah pertandingan yang tak berimbang.
Sampai kemudian Harvey Elliott masuk ke lapangan pada menit 86 menggantikan Mohamed Salah yang malam itu tak berkutik dikunci Nuno Mendes.
Tak ada satu pun fans Liverpool yang berharap Elliott bakal menciptakan keajaiban. Salah yang selama musim ini sangat superior saja tak bisa bergerak menghadapi benteng pertahanan dan pressing pemain-pemain PSG. Apalagi Elliott.
Pemain-pemain PSG pun mulai bisa mengendurkan urat syaraf, karena ancaman terbesar sudah lewat. Salah keluar lapangan dengan muka kecewa. Mungkin kepada dirinya sendiri.
Namun sepak bola selalu mengandung chaos dalam order: menyediakan ruang bagi kemuskilan dan kemustahilan dalam kemungkinan-kemungkinan. Permainan memang dibatasi dalam aturan yang ketat, ketertiban dijaga oleh wasit dan para ofisial pertandingan. Juga kamera VAR. Namun tak ada yang bisa membendung kesempatan. Tak ada yang bisa mengadang peluang.
Hanya dibutuhkan 47 detik bagi Elliott untuk menembakkan bola datar ke arah Donaruma. Kiper Italia itu sempat menepisnya. Gagal. Bola terlalu kencang melaju masuk ke dalam gawang PSG setelah sempat membentur tiang kanan.
Nasib sudah diputuskan. Kemenangan Liverpool tercatat di papan skor, dan Elliott dibicarakan dengan aplaus penuh decak kagum. Juga Arne Slot, pelatih Liverpool, yang dianggap canggih dalam urusan ‘art of subs’. Juru taktik yang menguasai ilmu setara ‘weruh sak durunge winarah’.
Namun Oktafianus Fernando bukan Harvey Elliott, dan Persebaya bukan Liverpool. Unggul 1-0 berkat gol yang dicetak Francisco Rivera pada menit 45, Persebaya hanya perlu menunggu lima menit dari waktu normal untuk memastikan kemenangan atas PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (12/3/2025).
Jika menang, maka Persebaya bisa melompat ke posisi kedua klasemen, menyalip Dewa United.
Oktafianus masuk pada menit 73 menggantikan Toni Firmansyah yang bermain cemerlang sepanjang pertandingan.
Kita tak tahu kenapa Paul Munster memilih untuk menggantikan seorang gelandang serang berusia 20 tahun dengan seorang pemain sayap berusia 31 tahun. Sementara itu penyerang Rizky Dwi Pangestu juga digantikan Kasim Botan yang juga berposisi sayap.
Sepuluh menit kemudian, Munster barulah memasukkan gelandang bertahan Mohammed Rashid untuk memperkuat lini gelandang yang diacak-acak PSIS.
Pemain asal Palestina itu menggantikan pemain depan Flavio Silva, yang hari itu semakin memastikan dirinya sebagai ‘one season wonder’ (mencetak 23 gol dan 4 assist untuk Persik pada musim 2023-24, dan baru mencetak 6 gol dan 1 assist untuk Persebaya hingga pekan 27 musim 2024-25).
Namun itu tak cukup. Dua pemain sayap PSIS, Gali Freitas dan Septian David Maulana merepotkan pertahanan Persebaya. Di bangku cadangan tersedia opsi dua gelandang bertahan, Andre Oktaviansyah dan Gilson
Entah apa yang ada di benak Paul Munster, sehingga lebih memilih untuk memasukkan seorang pemain sayap yang agresif seperti Oktafianus, daripada satu lagi gelandang bertahan. Alasan paling rasional adalah mempertajam serangan. Munster memilih untuk ‘killing the game’ daripada bermain aman mempertahankan skor 1-0.
Fabio Oliveira, mantan pelatih Persebaya asal Brasil, menilai tidak ada masalah dari pergantian itu. “Head coach pasang pemain yang sedang dalam kondisi terbaik. Keputusan di lapangan, pemain sendiri yang ambil,” katanya dalam akunnya di laman media sosial X.
Namun Oktafianus hanya bermain delapan kali pada musim ini. Dia sama sekali tak pernah terlibat satu pun dari 32 gol yang dicetak Persebaya hingga pekan 27. Sejak 2018, pemain kelahiran Jakarta itu baru mencetak empat gol dan 11 assist.
Gol terakhir Opan, sapaan akrabnya, dicetak pada 1 Juli 2019 di Gelora Bung Tomo, saat Persebaya mengalahkan Persela Lamongan 3-2. Praktis dia telah mengalami masa paceklik selama lima tahun.
Hingga kemudian datanglah kesempatan itu. Menit 93.06, Gali Freitas melakukan tendangan bebas di wilayah Persebaya. Bola berhasil diblok dan jatuh di kaki pemain PSIS. Namun dalam waktu hanya tiga detik, Francisco Rivera berhasil menekel bola itu, mengoperkannya kepada Slavko Damjanovic yang memulai serangan balik cepat.
Bola dioperkan kepada Opan yang melaju tanpa kawalan pemain PSIS yang seperti penumpang ketinggalan kereta, karena seluruhnya berada di pertahanan Persebaya. Hanya penjaga gawang Syahrul Trisna yang meninggalkan gawangnya untuk mempersempit ruang tembak Opan, sembari mengharapkan peruntungan nol koma sekian persen.
Opsi terbuka lebar bagi Opan. Melesakkan sendiri bola ke gawang lawan atau mengoperkan kepada Kasim Botan atau Bruno Moreira yang sudah berlari di sampingnya seperti dalam film anime Kapten Tsubasa.
Opan harus mengambil keputusan dalam hitungan detik. Dan pada menit 93 detik ke-19, dia memutuskan untuk mencatatkan namanya di papan skor musim ini dengan menembakkan bola ke sisi kiri gawang PSIS.
Dan…bola menghantam papan iklan elektronik di belakang gawang.
Belum sempat penonton dan Paul Munster mencerna apa yang terjadi, Syahrul Trisna memulai serangan balik cepat ke pertahanan Persebaya.
Dan hanya butuh waktu 34 detik setelah kegagalan Opan yang gemilang itu, Gustavo Souza mengirimkan bola lambung ke area pertahanan Persebaya untuk menciptakan kemelut yang berujung gol penyama kedudukan. Septian David Maulana mencetak gol keempatnya musim ini dan memunculkan euforia di bangku cadangan PSIS.
Skor akhir 1-1. Namun terasa seperti sebuah kekalahan besar bagi Persebaya dan perayaan juara bagi PSIS. Greatest escape, kata orang Inggris.
Opan menangis dan harus dihibur kawan-kawannya di akhir pertandingan. Sepak bola terkadang kejam. Hanya butuh waktu enam detik setelah menerima bola dari Damjanovic, Opan membuyarkan sendiri peluang di depan mata untuk menjadi pahlawan malam itu.
Tidak menunggu lama. Malam itu media sosial dipenuhi komentar yang menghujat Opan.
Dan Opan tidak gentar. Dia memutuskan untuk masuk ruang konferensi pers usai pertandingan mendampingi Paul Munster, bersiap menghadapi pertanyaan tajam dari wartawan.
“Saya harus ambil tanggung jawab ini. Tidak ada kesalahan pada permainan Persebaya. Kesalahan penuh ada pada saya. Saya siap mengambil tanggung jawab itu dan disalahkan,” kata Opan.
“Jujur saja untuk saat ini, saya tidak bisa berkata apa-apa. Ya memang kesalahan saya. Jadi tidak ada masalah tim. Tim bermain bagus,” kata Opan.
Situasi ini mengingatkan pada situasi yang dihadapi Kasim Botan pada pertandingan melawan Borneo FC, di Stadion Batakan, Balikapapan, Kalimantan Timur, Kamis (7/3/2024). Pemain kelahiran Andonara, Nusa Tenggara Timur, ini dimasukkan Paul Munster ke lapangan pada menit 79 menggantikan Bek kiri Reva Adi.
Enam menit kemudian Toni Firmansyah mencetak gol dan membuka peluang Persebaya mencuri tiga angka dari klub yang sedang berada di pucuk klasemen. Bajul Ijo sendiri sedang berada di peringkat 10 saat itu.
Namun keunggulan itu hanya bertahan tujuh menit. Kasim Botan mencetak gol ke gawangnya sendiri saat bermaksud menyapu bola dari Adam Alis pada menit 90+2. Lima menit kemudian Ikhsanul Zikrak mencetak gol kemenangan Borneo. Asa tiga angka Persebaya ambyar hanya dalam waktu 12 menit.
Persebaya menutup musim 2023-24 dengan menduduki posisi 12. Ini posisi terburuk Persebaya sejak mengikuti kompetisi Liga 1 pada 2018.
Musim 2024-25 masih belum berakhir. Tinggal tujuh pertandingan tersisa dan Persebaya saat ini menduduki posisi ketiga klasemen sementara dengan mengemas 48 angka.
Sulit memang untuk mengejar gelar juara pada saat Persib Bandung kokoh di puncak dengan 57 angka. Satu-satunya peluang yang masih terbuka adalah merebut posisi runner-up untuk bisa berlaga di level Asia.
Oktafianus Fernando menunjukkan kepada semua orang betapa rapuhnya skor dalam sebuah pertandingan sepak bola. Tedengar klise. Tapi kemenangan dan kekalahan tak ubahnya fatamorgana, terutama dalam sebuah pertandingan yang ketat dengan menit-menit akhir yang melelahkan.
Tapi, seperti kata manajer Liverpool Bill Shankly, ‘sometimes you win, sometimes you learn‘.
Karena kalah tak seharusnya ada dalam kamus mental sebuah klub sepak bola. [wir]






