Malang (beritajatim.com) – Perpustakaan Unisma (Universitas Islam Malang) mengenalkan corner baru bernama Wahbah Az-Zuhaili. Penamaan corner tersebut didasarkan pada tokoh muslim ahli fiqih. Nama corner Wahbah Az-Zuhaili diberikan atas usul dari Dr. KH. Marzuki Mustamar, M.Ag.
Pada saat yang sama K.H Marzuki mengisi acara literasi bertema ‘Nalar dan Karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah dalam Perspektif Wahbah Az-Zuhaili’. Acara pada Selasa (19/3/2024) lalu itu berlangsung di ruang literasi, Perpustakaan Unisma.
Hadir saat acara, Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri , M.Si, didampingi jajaran wakil rektor, pengurus, pengawas dan pembina yayasan. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Dr. K.H. Marzuqi Mustamar, M.Ag, Pengasuh PP. Sabilurrosyad, Gasek, Malang.
Kepala perpustakaan Unisma, Dra Lilik Firdaus, M.Si., menjelaskan bahwa corner tersebut berisi kitab klasik bisa untuk kajian keislaman dan berisi kitab Wahbah Az Zuhaili. Kitab tersebut dipelajari oleh pemustaka maupun pengujung umum.
“Usulan nama corner tersebut sebenarnya sudah diberikan sejak peresmian gedung perpustakaan baru direnovasi pada hari santri 2020. Wahbah Az Zuhaili adalah cendekiawan yang secara kapasitas dan kapabilitas bisa menjadi tauladan bagi kita semua agar menjadi mukmin yang ideal dan tangguh,” ujar Lilik.
Sementara itu, Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri M.Si., menuturkan bahwa Ngaji Aswaja tentang tokoh Wahbah az-Zuhaili diintegrasikan dengan perpus literasi Unisma. Salah satu corner perpus Unisma bernama Wahbah Zuhaili. Nama tersebut diberikan oleh K.H Marzuki Mustamar.
Rektor Unisma berharap seseorang yang datang ke perpustakaan Unisma dapat meneladani tokoh dari ahlussunnah tersebut. Baik dilakukan dengan mengetahui sejarah, perbuatan baik tokoh agama dunia tersebut, maupun mengabadikan namanya di perpustakaan Unisma.

Wahbah Az-Zuhaili merupakan tokoh ulama fiqih abad ke-20 yang terkenal dari Syiria. Tokoh ini dikenal cerdik cendekia, alim allamah, dan menguasai berbagai disiplin ilmu (mutafannin). Pemikiran fiqihnya sudah banyak menyebar ke seluruh penjuru dunia lewat kitab yang ditulis.
“Latar belakang itu berkaitan erat dengan karakter yang dapat menjadi teladan bagi para dosen maupun karyawan Unisma. Dari sisi nalar dan karakter terkait dengan aqidah, syariah akhlaknya, tasawuf,” jelas Maskuri.
Terkait kajian nalar Aswaja, Maskur menilai sebagai hal yang penting dipahami, khususnya bagi dosen maupun para karyawan baru Unisma. Kajian ini dapat menjadi pencerahan terkait akidah, syariah, akhlak, maupun tasawufnya.
“Kajian nalar dan karakter Aswaja dalam perspektif Wahbah Az-Zuhaili ini tidak harus difokuskan Nahdliyah, tetapi perlu diberikan satu pencerahan bagi kita semuanya terkait dengan akidah dengan syariah dengan akhlak atau tasawufnya,” kata Masykuri. [dan/suf]






