Gresik (beritajatim.com) – Sejumlah duta besar dari Eurasian Economic Union (EAEU) yang terdiri dari Rusia, Belarusia, Armenia, Kazakhstan, dan Kirgistan, serta negara-negara Mercosur seperti Argentina, Bolivia, Brasil, Paraguay, dan Uruguay, mendatangi Petrokimia Gresik guna menjajaki kerja sama di sektor pangan dan peternakan.
Kedatangan para duta besar ini difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI untuk memperluas peluang kerja sama di bidang pangan dan sektor lainnya.
Duta Besar Belarusia untuk Indonesia, Raman Ramanouski, menyampaikan bahwa pihaknya ingin memperkuat kerja sama bisnis yang sudah terjalin lama, khususnya dalam penyediaan bahan baku pupuk.
“Kami ingin kerja sama seperti ini ditingkatkan lagi,” ujar Ramanouski, Selasa (19/2/2025).
Sementara itu, Duta Besar Uruguay untuk Indonesia, Christina Gonzales, yang mewakili negara-negara Mercosur, menuturkan bahwa sektor peternakan Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Potensi peternakan di Indonesia sangat besar, dan ini harus kami tingkatkan lagi,” katanya.
Para duta besar tersebut juga mendapat pemaparan dari Direksi Petrokimia Gresik mengenai potensi kerja sama, serta diajak berkeliling ke Exhibition Building Wisma Kebomas dan area riset pertanian.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satryo Annurogo, menjelaskan bahwa negara-negara EAEU merupakan pemain utama dalam industri pupuk global, dengan teknologi canggih serta suplai bahan baku yang efisien. Sementara itu, negara-negara Mercosur dikenal sebagai sentra peternakan dunia.
“Swasembada pangan merupakan salah satu prioritas utama pemerintah. Melalui program yang diinisiasi Kemenlu ini, kami siap memperkuat kerja sama di sektor pupuk dan peternakan sapi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dwi Satryo mengatakan bahwa tahap awal kerja sama ini masih dalam proses identifikasi potensi di lapangan serta peluang strategis untuk pengembangan sektor pertanian dan peternakan, khususnya pupuk dan sapi.
“Pupuk merupakan salah satu produk vital yang mendukung produksi pertanian secara berkelanjutan. Indonesia memiliki kapasitas produksi pupuk nasional mencapai 14,6 juta ton per tahun, termasuk kontribusi dari Petrokimia Gresik. Namun, untuk memenuhi kebutuhan nasional, Indonesia masih memerlukan suplai bahan baku dari mitra-mitra lain, termasuk negara-negara EAEU,” pungkasnya. [dny/but]






