Magetan (beritajatim.com) – Petani jeruk pamelo di Desa Tamanan dan Desa Tambakmas Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan belum putus harapan. Mereka masih berusaha agar 100 pohon jeruk yang nyaris mati tetap bisa hidup.
Mereka rela keluar duit sampai Rp700 ribu sekali mengairi kebun jeruk seluas sekitar setengah hektar itu. Air tersebut merupakan aliran dari sumur pompa dalam, dan harus beli jika ingin memanfaatkannya. Per jam membayar Rp70 ribu, dengan kebutuhan aliran air sekitar 10 jam.
Jika mereka tak punya uang lebih, maka mereka bakal membiarkan tanamannya. Untung kalau masih hidup, jika mati mereka hanya bisa pasrah.
Supri, salah seorang petani jeruk yang membantu untuk membuat aliran air di lahan milik tetangganya mengatakan, setiap kemarau panjang, pasti mereka kekurangan air.
“Ya kalau musim kemarau begini pasti banyak yang hampir mati. Jadi, ya mau nggak mau beli air kalau punya uang. Meski ini kemungkinan bisa bersemi lagi tinggal 50 persen harapannya,” kata Supri.
BACA JUGA:
Petani di Magetan Alih Pekerjaan Jadi Pencari Batu Sungai
Hal senada diceritakan Suparto, petani jeruk pamelo di Tambakmas, Kecamatan Sukomoro Di lahannya, ada sekitar 100 batang pohon jeruk pamelo yang nyaris mati. Daunnya sudah menggulung dan mengering.
“Kalau punya uang lebih ya beli air. Per jamnya Rp70.000, lumayan masih ada harapan hidup. Ya begini kondisinya kalau musim kemarau. Air beli 10 jam itu hanya cukup untuk satu kotak, ya kira-kira 100 batang pohon jeruk lah,” katanya.
Hingga saat ini mereka masih berharap agar tenaman jeruk mereka tidak mati. Sehingga, sampai musim hujan tiba, tanaman mereka bisa berbuah maksimal. [fiq/suf]






