Magetan (beritajatim.com) – Musim kemarau membuat petani sawah tadah hujan di Kecamatan Parang, Magetan beralih pekerjaan. Mereka memilih mencari batu di sungai untuk menyambuhg hidup.
Salah satunya Partun, warga Desa Joketro Kecamatan Parang. Dia memilih menambang batu sungai secara manual untuk mendapatkan penghasilan. Meski harus menunggu seminggu sampai batu atau pasir genap satu bak pikap atau setara sekitar 2,5 kubik. Per pikap, dijualnya Rp200.000 hingga Rp250.000.
“Kekeringan ini ya larinya ke sungai semua mencari pasir dan batu untuk dijual Rp200 ribu satu pick up. Carinya di Sungai Joketro,” kata Partun, Rabu (9/8/2023).
Baca Juga: Presiden Jokowi Ajak REI Berkontribusi dalam Program Sejuta Rumah
Sulasmi, warga lainnya turut menambang pasir. Mereka berendam dan mengeruk pasir menggunakan alat seadanya. Kemudian, dimasukkan dalam tenggok bambu. Selanjutnya, digendong dan dikumpulkan di pinggir sungai.
Jika batu yang dikumpulkan agak besar, maka mereka akan memecahinya hingga jadi batu koral atau batu split. Untuk pasir dalam dua hari bisa langsung dijual. Untuk batu sekitar seminggu baru bisa dijual.
“Sawah dan ladang kering terus pindah kesini. Ya menguntungkanlah cari batu sama pasir dijual nanti kalau sudah musim penghujan baru kembali ke sawah menanam padi jagung dan sayuran,” kata Sulasmi.
Baca Juga: Tuntas, Kabupaten Bangkalan Akhirnya Dapatkan PI dari Blok Migas WMO
Aktivitas itu sudah dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Bahkan, sejak masa muda orang tuanya. Lantaran, kondisi geografis di wilayah Joketro hanya bisa digunakan cocok tanam ketika musim penghujan. [fiq/ian]






