Kediri (beritajatim.com) – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Tondomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, perjuangan panjang seorang ibu bernama Genti (32) terus berlanjut dalam merawat putranya, Febio Oktavian, anak berusia lima tahun yang sejak lahir menghadapi dua kondisi langka, limfangioma atau tumor jinak bawaan, dan makroglosia, pembesaran lidah yang membuat ukuran lidahnya melebihi anak seusianya.
Kisah mereka menggambarkan apa yang sebenarnya dialami banyak keluarga saat dihadapkan pada situasi medis yang rumit, campuran antara ketakutan, keberanian, dan harapan.
Perjalanan itu dimulai ketika Febio baru berusia tujuh bulan. Bengkak di leher dan lidahnya membesar hingga dua kali lipat, membuat Genti memberanikan diri mencari pertolongan ke Surabaya. Namun keputusan sulit langsung menghadang.
“Waktu itu dokter bilang lidahnya harus dipotong, tapi saya nggak berani. Risikonya tinggi, saya takut… akhirnya pulang,” kenangnya. Ketakutan akan risiko anestesi untuk kondisi lidah yang besar membuatnya menunda tindakan yang disarankan.
Keberanian baru muncul setelah assessment dari Dinas Sosial pada Desember 2024 mengarahkan Febio untuk kembali dirujuk ke Surabaya. MRI dan pemeriksaan lanjutan dilakukan, sementara dokter anestesi memperingatkan risiko yang jauh lebih besar dibanding pasien biasa karena saluran napas Febio mudah tersumbat.
Dalam pergulatan batin itu, dukungan keluarga, pendamping, dan relawan perlahan mengikis keraguannya. “Dokter bilang adik ini lain dari yang lain. Risikonya ada, tapi mereka siap backup. Saya disuruh berdoa, akhirnya saya berani. Alhamdulillah semua lancar,” tuturnya dengan lega.
Operasi tumor hanyalah awal. Dokter juga merencanakan rekonstruksi lidah agar Febio dapat makan, berbicara, dan bernapas lebih baik seiring pertumbuhannya. Namun keputusan itu kembali menjadi beban emosional bagi Genti.
“Saya tanya dokter berkali-kali, nanti makannya gimana? Harus steril kan? Kata dokter sementara lewat selang dulu,” ujarnya. Mendengar kata “operasi lidah” saja membuatnya goyah, tetapi ia tahu pilihan itu harus ditempuh demi masa depan anaknya.
Selain rekonstruksi, beberapa dokter mengajukan opsi lain seperti embolisasi, membuat keluarga harus menunggu jadwal pasti operasi besar berikutnya. Di tengah ketidakpastian itu, Genti menemukan kekuatan dari pendampingan Dinas Sosial, Kemensos, dan relawan yang tak pernah putus. “Kalau ada yang support, rasanya dipedulikan. Jadi kuat lagi,” katanya pelan.
Namun dukungan itu tidak serta-merta menghapus rasa takut. Melihat Febio masuk ruang operasi untuk proses injeksi saja sudah cukup menghancurkan hatinya.
“Rasanya kayak kehilangan. Nangis sampai nggak kuat,” ujarnya. Meski demikian, Febio tumbuh menjadi sosok kecil penuh kejutan, aktif, cerdas, dan jarang mengeluh. “Kadang saya bingung, ‘Le, yang sakit yang mana?’ Ditanya dokter saja dia jawab, ‘Enggak’,” ucap Genti sambil tertawa kecil.
Meski sudah berusia lima tahun, Genti memilih menunda sekolah untuk sementara. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena takut anaknya tidak nyaman atau menjadi sasaran tatapan orang. “Yang sehat saja kadang sekarang banyak bully. Jadi aku fokuskan pengobatan dulu,” ungkapnya.
Di tengah jalan panjang pengobatan yang masih menanti, Genti memiliki satu harapan sederhana tetapi besar maknanya. “Semoga semua operasi lancar, tumornya hilang, lidahnya bisa normal, dan dia bisa sekolah seperti teman-temannya. Saya cuma ingin dia tumbuh seperti anak-anak lain,” harapnya.
Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Timur, Arif Witanto, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi Febio. Ia berharap penanganan medis menyeluruh dapat membuat Febio kembali beraktivitas normal.
“Kami sangat berharap anak ini mendapatkan perawatan terbaik agar bisa hidup sebagaimana anak seusianya,” ujarnya.
Perjalanan Genti dan Febio masih panjang, tetapi tekad seorang ibu, dukungan orang-orang di sekelilingnya, dan ketahanan seorang anak kecil memberi harapan bahwa jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik selalu ada. [nm/aje]






