Banyuwangi (beritajatim.com) – Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Kita Bisa dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional. Dalam kegiatan ini, terdapat pameran ragam karya dan kreasi dari anak-anak muda penyandang disabilitas.
Mereka masuk dalam platform data peserta didik berkebutuhan khusus. Pesertanya adalah siswa-siswi penyandang disabilitas tingkat SD dan SMP se-Banyuwangi. Mereka juga pemenang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional untuk kategori disabilitas.
Sejumlah stan yang tersedia menjadi panggung pamer hasil karyanya. Mulai dari kain batik, anyaman dari limbah plastik, aneka kerupuk, snack, hingga robot pendeteksi sampah. Ada pula yang unjuk kemampuannya di bidang coding hingga membaca puisi.
Salah satu anak tersebut adalah M. Qiandra Valeri, penyandang cerebral palsy dari SDN 1 pakis. Pelajar kelas 1 SD itu yang juga pemenang lomba baca puisi pada rangkaian Festival Kita Bisa.
BACA JUGA:Unisma Hadirkan Gus Shon dan Ratusan Jam’iyyah Sholawat
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Banyuwangi telah mewujudkan sekolah inklusi yang ramah bagi para penyandang disabilitas sejak 2013. Hingga hari ini, semua sekolah negeri dari tingkat PAUD sampai SMA/ sederajat telah berstatus inklusif.
“Tidak hanya dalam bidang pendidikan saja, kami juga terus mengupayakan memenuhi hak-hak disabilitas. Seperti halnya dalam pelayanan umum, terpenuhinya fasilitas disabilitas di tempat-tempat publik, hingga terbukanya peluang di dunia kerja. Bertahap terus kami perbaiki layanan dan fasilitas kami yang ramah bagi disabilitas,” terang Ipuk.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Suratno, menambahkan di Banyuwangi saat ini terdapat 181 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, mulai dari tingkat paud, SD, SMP, hingga SMA/sederajat. Sekolah-sekolah ini didampingi oleh 11 Sekolah Luar Biasa (SLB) yang bertindak sebagai konsultan. Adapun jumlah guru pendamping khusus (GPK) sebanyak 250 orang.
“Secara berkala para GPK ini kami berikan bimtek untuk meningkatkan kapasitasnya. Sehingga mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik dalam menjembatani kesulitan belajar ABK di sekolah inklusi,” kata Suratno. (Rin/Aje)






