Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Melacak Asal Usul Hari Jadi Lamongan dari Kitab Wasiat Sunan Giri

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dan Wabup Abdul Rouf saat ziarah dan napak tilas di Makam Mbah Lamong, di HJL ke-453.

Lamongan (beritajatim.com) – Hari Jadi Lamongan (HJL) diperingati tanggal 26 Mei setiap tahunnya. Ada sejarah panjang bagaimana tanggal tersebut dipilih.

Penetapan tanggal Hari Jadi Lamongan tersebut didasarkan pada sumber yang tertera pada dari kitab yang diwasiatkan langsung oleh Sunan Giri. Kitab wasiat itu ditulis tangan dalam huruf Jawa kuno dan masih disimpan oleh juru kunci makam Sunan Giri di Gresik.

Kitab itu memuat peristiwa diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan. Prosesi tersebut dilakukan dalam Pasamuan Agung pada 976 H.

“Berdasarkan tahun itulah, kemudian dilakukan penelusuran dan ditemukan bahwa wisuda tersebut terjadi pada Hari Kamis Pahing tanggal 10 Dzulhijjah 976 H atau bertepatan dengan 26 Mei 1569 M,” ujar Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, saat menggelar napak tilas sejarah HJL.

Sosok Tumenggung Surajaya yang bernama Hadi dan kini dikenal dengan julukan Mbah Lamong ini merupakan santri Kesultanan Giri yang terampil dan cakap. Dia menguasai ajaran agama Islam serta seluk beluk pemerintahan.

Karena alasan tersebut, Sunan Giri menunjuk dan memberikan amanah kepada Tumenggung Surajaya agar menyebarkan ajaran Islam, mengatur pemerintahan, dan kehidupan masyarakat di Kawasan Kenduruan.

Singkat cerita, Hadi berhasil menjalankan amanah tersebut dengan lancar dan mudah. Karena keberhasilannya, Hadi mendapat julukan ‘Lamong’ yang artinya ‘among’ (ngemong) yang baik atau pengayom warga.

Hadi kemudian dinobatkan sebagai Adipati pertama dengan gelar Tumenggung Surajaya. Selain itu, Sunan Giri IV atau Sunan Prapen juga mengumumkan wilayah Kranggan Lamongan menjadi Kadipaten Lamongan.

Selain Mbah Lamong, Bupati Yuhronur menyebut sosok Mbah Punuk dan Mbah Sabilan juga merupakan tokoh penting dalam sejarah Lamongan. Mbah Sabilan adalah panglima perang, sedangkan Mbah Punuk merupakan tokoh agama yang memberikan tausiah pada masyarakat sekitar Lamongan.

“Mbah Sabilan hingga saat ini belum diketahui nama aslinya. Beliau merupakan tokoh yang erat kaitannya dengan tradisi calon pengantin perempuan yang melamar calon pengantin laki-laki di Lamongan,” terangnya.

Lebih rinci, Yuhronur menjelaskan Mbah Sabilan adalah seorang patih/panglima perang dari Adipati ke-3 Lamongan, Raden Panji Puspa Kusuma, yang merupakan ayah dari Raden Panji Laras dan Panji Liris sekitar tahun 1640-1665. Disebut dengan nama Mbah Sabilan karena meninggal sebagai sabilillah di medan perang.

“Melalui napak tilas ini, diharapkan dapat menambah semangat dan spirit untuk menjadikan Lamongan sebagai wilayah yang berjaya dan dapat mempertahankan budaya, adat-istiadat, kegotong-royongan, serta kebersamaan,” harapnya.

Dalam kesempatan ini, Yuhronur mengungkapkan napak tilas penting dilakukan sebagai wujud bakti agar spirit dan semangat juangnya terus menjadi teladan bagi generasi penerus untuk memajukan Kabupaten Lamongan.

Menurut dia, tidak akan ada kejayaan tanpa perjuangan. Yuhronur menilai, perjuangan itu harus terus dijadikan sebuah komitmen untuk berkolaborasi dalam mewujudkan kejayaan Lamongan, sebagaimana tema HJL ke-453 yakni ‘Kolaborasi Mewujudkan Pembangunan Inklusif.

“Kolaborasi yang dimaksud adalah kita semuanya bergandeng tangan, seluruh elemen masyarakat, siapa pun mempunyai kewajiban yang sama untuk memajukan wilayah Kabupaten Lamongan yang inklusif, yang terbuka, saling menghargai,” tandasnya. [riq/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar