Jember (beritajatim.com) – Lailatul Muaziza, istri Rahmad Kurniawan Abadi, pekerja migran yang disekap di Rusia, melaporkan persoalan yang dihadapi sang suami ke Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Dia melaporkan terakhir berkomunikasi dengan suaminya pada Sabtu (2/9/2023) kemarin. Belum bisa dihubungi lagi kemudian. Istrinya ingin Disnaker menelusuri keberadaan sang suami di Rusia,” kata Sub Koordinator Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Ridha Herawati, ditulis Kamis (7/9/2023).
Menurut pengakuan Lailatul kepada Disnaker Jember, Rahmad berangkat ke Rusia pada akhir 2021 dan bekerja di sebuah rumah tangga. “Istrinya tahu. Cuma keberangkatannya tidak terdaftar ke Disnaker. Jadi dipastikan ilegal,” kata Ridha.
Lailatul juga tahu siapa yang memberangkatkan Rahmad yakni orang Banyuwangi. Ia mulai merasa waswas setelah tahu visa yang terbit bukan visa kerja. “Istrinya mulai waswas kalau itu ilegal,” kata Ridha.
Rahmad sebenarnya sudah berusaha melapor ke polisi Rusia. “Sudah lapor, katanya ditampung di kepolisian. Tapi oleh majikannya diambil lagi dan diserahkan ke agen, lalu dijual lagi ke orang lain, yang menurut informasi, dia belum dikasih pekerjaan tapi tidak boleh keluar rumah. Rumahnya dikunci dari luar,” kata Ridha.
Mendapat laporan itu, Disnaker Jember berkoordinasi dengan Disnaker Jawa Timur, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Jawa Timur, dan pemerintah pusat. “Keinginannya kan dipulangkan. Kami berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pemulangannya,” kata Ridha.
Kabar penyekapan di Rusia ini tersiar setelah beredar sebuah video berisi pengakuan dari Rahmad Kurniawan Abadi. Dalam video berdurasi satu menit itu, Rahmad mengaku diberangkatkan ke Rusia oleh seorang perempuan awal Banyuwangi bernama Vera. “Di Rusia saya ditampung agen bernama Yesenia,” katanya.
Rahmad mengaku berada di Rusia hampir satu tahun dan tidak memperoleh gaji. “Posisi sekarang di apartemen, di penampungan, dan saya dikunci dari luar. Logistik disediakan,” katanya.
Saya mohon bantuan kepada pihak-pihak terkait pemerintah Indonesia untuk bisa memulangkan saya. Terima kasih. Assalamualaikum,” kata Rahmad.
Direktur Migran Aid Indonesia Moch. Cholily mengaku mendapat video itu dari seorang kawan pekan lalu. Setelah ditelusuri, ternyata Rahmad adalah warga Dusun Kepel, RT 001/RW 014, Desa Kepel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Dia lahir pada 30 April 1986.
“Saya berkomunikasi dengan istrinya Bu Lailatul Muazizah. Intinya ada dua persoalan. Satu, Rahmad terjebak sindikat perdagangan orang. Kedua, dia ditempatkan di negara yang tengah dalam situasi perang. Ini pelanggaran undang-undang,” kata Cholily, Rabu (6/9/2023). [wir]






