Mojokerto (beritajatim.com) – Gapura Bajang Ratu terletak di Dusun Keraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit. Dari kajian arkeologi dan penelitian, diyakini Gapura Bajang Ratu merupakan pintu masuk bangunan suci.
“Secara visual, ini adalah gerbang atau gapura. Tapi kita tahu bahwa masyarakat pada umumnya memberi nama setiap peninggalan Kerajaan Majapahit adalah candi. Tapi yang perlu diperjelas ini adalah gapura tapi masuk kemana atau keluar kemana, tidak tahu,” ungkap Arkeolog Andi Muhammad Said dalam kanal Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI.
Arkeolog Ismail Lutfi mengatakan, jika Gapura Bajang Ratu merupakan salah satu peninggalan pada masa Hindu-Budha yang ada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang sudah sangat populer. “Dari bentuk fisiknya memang sebuah gapura namun penyebutan candi itu sudah berlangsung lama sekali,” tambahnya.
Bangunan tersebut dikaitkan dengan pendarmaan untuk Jayanegara, Raja kedua Kerajaan Majapahit. Namun tegas Lutfi, secara akademis hal tersebut harus dikaji ulang terkait perkembangan informasi yang berkembang selanjutnya. Menurutnya pendarmaan tidak ada kaitannya dengan pintu gerbang.
“Pintu gerbang sifatnya tidak sakral, sedangkan pendarmaan itu sakral. Iya (pintu masuk ke tempat sakral) tepat sekali. Sebagaimana tradisi yang dilakukan pada masa Hindu-Budha, bahkan perkembangan pada era Islam awal, pola penataan halaman atau ruang memang sering dibatasi dengan keberadaan gapura dan dinding,” jelasnya.
Masih kata Lutfi, Gapura Bajang Ratu memiliki bentuk yang mempunyai atap yang disebut sebagai Paduraksa. Menurutnya sebelum melalui madu raksa, ada dua gerbang yang lain yang berbentuk candi bentar untuk menuju tempat sakral tersebut. Umumnya di masa Hindu kuno ada tiga gerbang untuk menuju ke tempat suci.
“Paduraksa merupakan petunjuk seseorang memasuki tempat paling suci. Ini misteri bagi orang awam, tapi dari kajian arkeologinya mendapatkan bantuan dengan adanya ambang pintu yang terbuat dari batu andesit, dimana kita bisa melihat adanya mekanisme pintu. Daun pintu, dari situ bisa dilihat kearah mana daun pintu itu dibuka,” ujarnya.
Baca Juga: Berdiri 230 Tahun, Ini Raja-raja Kerajaan Majapahit Mojokerto
Dari sejumlah penelitian jika daun pintu dibuka dari arah utara sehingga tamu ada di sisi selatan. Sehingga diduga bangunan suci ada di sisi utara Gapura Bajang Ratu namun saat ini tidak ada bangunan di sisi utara Gapura Bajang Ratu yang menonjol. Namun, tegas Lutfi, keberadaan Gapura Bajang Ratu tersebut berada di Dusun Kraton, Desa Temon.
“Bisa jadi komponen ini adalah rekaman masyarakat di masa lalu bahwa daerah ini dulu ada bangunan yang dianggap sebagai kraton. Ditambah Gapura Bajang Ratu dilengkap dinding yang megap, ini indikasi secara arkeologi bahwa bukan orang biasa yang bisa membangun gapura seperti ini,” tuturnya.
“Menarik sekali dengan keberadaan Bajang Ratu ini, di bagian selatan kita berharap dapat ditemukan sisa dari dua gapura yang mendahului. Di sisi selatan, di tanah penduduk ditemukan beberapa umpak batu, sisi tenggara ada Candi Tikus, timur ada Situs Kumitir. Jika di Kumitir ada bangunan besar dengan sini, apakah tidak mungkin saling terkait,” tegasnya.
Di bagian bawah ada tiga pahatan menunjukan adanya relief dengan cerita tokoh Sri Tanjung. Bada polos dan sedikit orgamen geometris, sementara bagian atap dipahat Kala yakni gaya seni Majapahit dengan kanan kiri diduga sebagian cerita Ramayana. Cerita Sri Tanjung dan Ramayana sangat populer pada jaman Majapahit.
“Ini adalah bangunan sifatnya bukan untuk pemujaan tapi gapura sehingga tidak ditemukan relief tokoh dewa. Perlu disampaikan lagi kepada masyarakat, pertama bangunan ini adalah gapura bukan candi. Walaupun masyarakat sudah terlanjur menyebutnya sebagai candi,” jelasnya.
Kedua dengan keberadaan daun pintu, tempat yang penting ada di utara. Sehingga pihaknya berharap masyarakat tahu untuk masuk ke tempat suci di Gapura Bajang Ratu ada di sisi utara. Ketiga, pihaknya berharap ada kajian keruangan terhadap Gapura Bajang Ratu sehingga mendapat dukungan data arkeologi.
Bentuk bangunan adalah gapura bertype Paduraksa, bahan bangunan terbuat dari bata, kecuali pada ambang pintu dan anak tangga terbuat dari batu andesit. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang berukuran tinggi 16,5 meter, panjang 11,5 meter, lebar 10,5 meter dan lorong pintu masuk lebarnya 1,4 meter.
Orientasi bangunan timur laut-tenggara dengan azimuth 180. Gapura Bajang Ratu secara vertical terbagi menjadi tiga bagian, kaki, tubuh, dan atap serta sayap dan pagar tembok pada kedua sisinya. Struktur kaki terdiri dari susunan pelipit rata maupun sisi genta.
Pada sudut-sudut kaki terdapat hiasan-hiasan panel-panel yang bagian kiri depan dihias relief yang mengambarkan cerita Sri Tanjung. Pada bagian tengah lantai terdapat struktur tangga yang lantainya terbuat dari batu andesit.
Badan gapura terdapat ambang pintu terbuat dari batu andesit berhias kepala kala serta sulur-suluran. Atap gapura disusun bertingka-tingkat makin ke atas makin kecil dengan puncak berbentuk kubus. Pada masing-masing tingkatan diberi relief menara kecil diselingi relief naga, garuda, matahari, serta hewan bermata satu (monocle Cyclops).
Nama Bajang Ratu pertama kali disebut dalam Oudheidkundig Verslag (OV) pada tahun 1915. Menurut beberapa ahli yang telah meneliti Bajang Ratu, gapura ini dihubungkan dengan Jayanegara yang dalam Kitab Pararaton disebutkan bahwa Jayanegara wafat pada tahun 1328 Ç dan sira ta dhinarmeng Kapopongan, bhiseka ring çrnggapura pratista ring Antawulan.
Menurut Krom (1926) çrnggapura yang disebut dalam Pararaton sama dengan çri Rangapura dalam Kitab Negarakretagama, sedangkan Antawulan yang disebut dalam Pararaton sama dengan Antarasasi dalam Negarakretagama.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dharma atau tempat suci Raja Jayanegara berada di Kapopongan atau Çrnggapura atau Çri Ranggapura, sedang pratistanya (bangunan suci) berada di Antawula atau Trowulan. Sehingga dapat dikatakan fungsi Gapura Bajang Ratu diduga sebagai pintu masuk ke bangunan suci.
Yakni untuk memperingati wafatnya Jayanegara yang dalam Negarakretagama disebutkan kembali ke dunia Wisnu pada tahun 1328 Ç atau 1406 M. Dugaan ini didukung oleh adanya relief Sri Tanjung dan sayap gapura yang mempunyai arti sebagai lambang pelepasan jiwa.
Masa pendirian Gapura Bajang Ratu tidak diketahui dengan pasti, namun berdasarkan relief binatang bertelinga panjang, relief Ramayana, dan relief naga. Dari relief-relief tersebut yang dapat dijadikan dasar perkiraan umur gapura.
[berita-terkait number=”3″ tag=”majapahit”]
Relief naga pada bagian atap menunjukkan zaman Yuan (1280-1368). Relief bertelinga panjang pada bingkai pintu masuk menunjukkan persamaan dengan Candi Jago akhir abad XIII. Relief rama menunjukkan masa yang sama dengan Candi Penataran abad XIV.
Relief Sri tmTanjung juga ditemukan pada Candi Surawana dari akhir abad XIV sehingga diperkirakan bahwa gapura Bajang Ratu didirikan antara abad XIII – XIV. Pendirian suatu bangunan suci pada umumnya didirikan 12 tahun setelah raja wafat, dapat diperkirakan bahwa gapura Bajang Ratu didirikan tahun 1340.
Menurut Maclaine Pont maupun Sutterheim Gapura Bajangratu ini dianggap sebagai pintu masuk keraton Majapahit. Perlu diketahui, gapura ini menghadap ke selatan, sedangkan toponim keraton (dusun Kraton) berada disebelah selatan Bajang Ratu.
Menurut Suyatmi Satari, gapura ini tidak ada hubungannya dengan keraton istana Majapahit. Gapura Bajang Ratu ini merupakan gapura masuk dari sebuah tempat pendharmaan dari raja Jayanegara. Hal ini didukung dengan adanya cerita Sri Tanjung (cerita Pelepasan).
Sedang gapura ini dihubungkan dengan Raja Jayanegara, ketika dilakukan penggalian di depan (selatan gapura Bajangratu) ditemukan fragmen terakota yang bergambar bersimbol dwajamina (dwaja = dua, mina = ikan), sebagai symbol dari raja Jayanegara. [tin/ted]


![Gapura Bajang Ratu di Dusun Keraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/11/20231110_062113_XEHr8Wxi7U-1024x576.jpeg)





