Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Jawa Timur hingga 4 April 2026.
Peringatan ini terkait dengan dampak tidak langsung dari keberadaan Siklon Tropis Narelle, yang saat ini terpantau di Samudera Hindia, tepatnya di barat Australia dan selatan Nusa Tenggara Barat.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa meskipun Jawa Timur saat ini berada pada masa pancaroba (peralihan ke musim kemarau), keberadaan Siklon Narelle justru meningkatkan intensitas gangguan atmosfer secara signifikan. Hal ini berdampak pada terbentuknya pola belokan serta pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Laut Jawa.
“Waspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, banjir bandang, tanah longsor, hingga puting beliung dan hujan es,” ujar Taufiq dalam keterangan resminya, yang diterima pada Minggu (29/3/2026).
BMKG juga mencatat bahwa kondisi ini diperburuk oleh fenomena atmosfer lainnya, seperti lintasan Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin yang terpantau di atas langit Jawa Timur. Suhu muka laut di Selat Madura menunjukkan aktivitas penguapan yang cukup tinggi, yang mempengaruhi intensitas hujan dengan meningkatkan pertumbuhan awan-awan konvektif.
Taufiq menambahkan, meski tingkat konvektif atmosfer saat ini berada pada kategori sedang namun labil, beberapa wilayah masih berisiko mengalami curah hujan kategori tinggi. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang rawan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan pohon tumbang akibat angin kencang.
“BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta adanya potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang selama 10 hari ke depan,” tambah Taufiq.
Wilayah yang diminta untuk meningkatkan kewaspadaan mencakup hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, termasuk wilayah barat seperti Pacitan dan Ngawi, wilayah tengah seperti Kediri dan Malang, hingga ujung timur di Banyuwangi serta seluruh wilayah Madura.
Masyarakat disarankan untuk memantau perkembangan cuaca secara real-time melalui citra radar cuaca WOFI dan selalu siap menghadapi perubahan cuaca mendadak. [rma/suf]






