Surabaya (beritajatim.com) – Saat ini, nampaknya kita selalu dihebohkan dengan masalah gangguan mental. Salah satu masalah mental yang umum terjadi adalah anxiety disorder.
Gangguan kesehatan mental yang dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki. Namun, kebanyakan menganggap jika hal ini terjadi pada perempuan merupakan sesuatu hal yang wajar, tapi tidak bagi laki-laki.
Biasanya tanda dari gangguan kecemasan muncul dengan beberapa gejala seperti ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan. Ketakutan itu berasal dari kecemasan secara umum, panik, kecemasan sosial, kecemasan terhadap perpisahan, tekanan hidup, stres pasca-trauma, hingga gangguan depresi persisten.
Perempuan dan Laki- Laki Memiliki Gejala Anxiety yang Berbeda
Dalam sebuah riset menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara gejala kecemasan pada perempuan dan laki-laki. Gejala yang dialami oleh laki – laki biasanya lebih berdampak pada gangguan fisik seperti sakit kepala, kehilangan nafsu makan, tremor hingga kehilangan kendali daripada gejala pada perempuan di usia yang sama.
Kecenderungan kecemasan pada laki – laki cenderung berpusat terhadap kurangnya kontrol perasaan dan persepsi bahwa dirinya sudah gagal sehingga tidak mampu mengendalikan kecemasan.
Nyatanya, perbedaan strategi menghadapi tekanan dapat memicu kecemasan Selain itu, penelitian menemukan perbedaan pada strategi koping atau respons dalam menanggapi tekanan sebagai pemicu kecemasan.
Beberapa laki-laki cenderung memilih strategi menghadapi masalah, sedangkan beberapa perempuan lebih memilih menghindar dan mencari dukungan secara emosional.
Meskipun strategi koping berbasis masalah kemungkinan efektif dalam menghadapi situasi, namun hal ini berpotensi memicu masalah jika strategi berantakan dan berjalan tidak sesuai seharusnya.
Seringkali, laki-laki lebih mungkin “mengobati diri sendiri” sebagai bentuk perilaku penghindaran dengan minuman beralkohol, tembakau dan obat-obatan sembarangan untuk membantu mengurangi atau mengontrol gejala kecemasan.
Selain itu, menurut Dr. Derek M. Griffith, pendiri dan direktur Center for Men’s Health Equity di Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat.
Dalam hal strategi koping, Dr. Thomas Fergus, profesor di Departemen Psikologi dan Ilmu Saraf di Universitas Baylor menyampaikan jika pola asuh sejak kecil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi gangguan anxiety.
Cara orang tua mendidik anak laki-laki dan perempuan dalam mengelola keadaan emosional menjadi sebuah peran penting dalam strategi koping.
Disamping itu, biasanya perempuan dianggap lebih fokus pada keadaan emosional. Sedangkan laki-laki lebih berfokus pada pemikiran logika dalam mengatasi masalah sehingga dapat mengendalikan emosi negatif. (PRD/ian)






