Jember (beritajatim.com) – Penyakit mulut dan kuku sapi mulai mewabah di Kabupaten Jember, Jawa Timur selama tiga pekan terakhir. Puluhan sapi mati karena serangan penyakit ini.
Jumlah sapi yang tertular karena terkena penyakit mulut dan kuku ini mencapai kurang lebih 50 ekor, dan 25 ekor di antaranya mati. Semua berawal di Dusun Mandigu, Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo. Untunglah penyakit ini tidak menular ke manusia.
“Awalnya ada sapi baru dari pasar. Dua sampai empat hari kemudian sakit dan mati. Setelah dikubur, beberapa hari kemudian ada sapi milik tetangga yang tertular.” kata Alif Rifqi Naufal Rafin, dokter pengelola Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Tempurejo, Senin (16/12/2024).
Penyakit mulut dan kaki ini menular cepat. “Gejala awalnya, sapi-sapi itu tidak mau makan dan keluar air liur berlebih. Ada busanya,” kata Alif.
Munculnya penyakit ini, menurut Alif, disebabkan kondisi cuaca. “Musim hujan ini bisa memicu penyakit, seperti demam karena pancaroba,” katanya.
Petugas Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember turun ke lapangan untuk mengecek, dan menemukan lesi-lesi dan sariawan di area mulut dan hidung sapi. Di bagian tengah kuku ditemukan bercak putih, yang mengarah ke gejala penyakit mulut dan kuku. “Sampai ada luka-luka sariawan di lidah, rongga mulut, gusi, sampai hidung,” kata Alif.
Penyakit ini tak hanya menjangkiti sapi di Tempurejo, tapi juga di Kecamatan Ambulu. Akhir-akhur ini ada enam kasus di Ambulu, empar kasus di antaranya di Desa Sumberejo. Tingkat penularannya mencapai 80 persen.
“Penyakit mulut dan kuku sudah jadi penyakit menular hewan strategis. Munculnya memang di cuaca seperti ini. Pembawanya senang hidup di kelembaban tinggi seperti ini,” kata Rencong Dwi Putra, dokter pengelola Puskeswan Kecamatan Ambulu.
Dibandingkan pandemi penyakit mulut dan kuku sapi pada 2022, Alif menyebut, wabah saat ini lebih gawat jika ditinjau dari kondisi ternak yang terjangkiti. “Tingkat kematiannya lebih tinggi ini daripada yang dulu. Kayaknya virusnya sudah bermutasi,” katanya.
Namun penularan penyakit saat ini lebih lambat dibandingkan dengan masa pandemi pada 2022. “Kalau dulu daerah ini kena, dusun sebelah pasti kena semua,” kata Alif.
Penyakit ini sebenarnya bisa disembuhkan. Jika peternak telaten mengupayakan sapi yang sakit untuk tetap makan, butuh waktu tiga sampai empat hari untuk pulih. Sapi tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan perut kosong, karena bisa mati dalam waktu dua sampai tiga hari.
Sebagian besar sapi yang terjangkit penyakit mulut dan kuku saat ini belum divaksinasi pada masa pandemi. Mereka adalah sapi-sapi baru, yang beranak menjadi pejantan di bawah usia satu tahun dan satu setengah tahun. “Kalau yang sudah tervaksin, gejala yang dialami ringan. Sapi masih mau makan, masih enak,” kata Alif.
Dalam menangani kasus ini, Alif melakukan komunikasi, memberikan informasi dan edukasi kepada peternak. “Bagaimana antisipasi penyakit ini, dengan cara menjaga kebersihan kandang, menjaga pola makan sapi, menjaga kesehatan sapi, dan ketika sapi terkena penyakit mulut dan kuku, agar lebih cepat memanggil petugas setempat,” katanya.
Sementara Rencong mengingatkan peternak agar sering menyemprotkan disinfektan pada kandang sapi. Hewan yang sakit harus dipisah segera dari sapi yang sehat.
“Lesi-lesi luka di kaki dan mulut diberi obat. Kalau keadaan seperti ini tidak bisa divaksin, karena kita tidak tahu apakah hewan itu sakit atau masa inkubasi. Setelah kasus menurun, baru kami berani memvaksin lagi,” katanya. [wir]






