Jember (beritajatim.com) – Mewabahnya penyakit mulut dan kuku beberapa tahun terakhir menyebabkan jumlah populasi ternak sapi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berkurang.
“Penyakit mulut dan kuku di Kabupaten Jember cukup menguras hampir 30 persen populasi ternak sapi kita. Sebenarnya bukan jumlah penyakitnya yang banyak, tetapi karena adanya panic selling peternak kita,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Perikanan Jember Sugiyarto, Kamis (2/4/2026).
Masa awal wabah penyakit mulut dan kuku menyebabkan kerugian luar biasa. “Sehingga masyarakat peternak berbondong-bondong menjual ternaknya, walaupun dengan harga yang sangat murah,” kata Sugiyarto.
Aksi jual dengan harga murah ini berdampak pada pendataan Badan Pusat Statistik. Semula populasi ternak sapi 270 ribu ekor menjadi 190 ribu ekor pada 2025. Salah satu upaya untuk menguatkan kembali bisnis ternak sapi di Jember adalah dengan menggelar kontes ternak yang dihadiri Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada 2025.
Menjaga kesehatan hewan ternak, pada 2025, Dinas KPPP Jember melakukan vaksinasi hingga mendekati Idul Adha. Pusat Kesehatan Hewan juga rutin melayani masyarakat peternak.
“Kami rutin melakukan monitoring terhadap ternak-ternak kurban, terutama terhadap indikasi terjadinya penyakit-penyakit yang berpotensi mengurangi kualitas ternak hewan kurban tersebut,” kata Sugiyarto. [wir/suf]






