Surabaya (beritajatim.com) – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) melalui program Matching Fund Vokasi 2023 telah mengembangkan Teknologi Smart Biokonversi untuk mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik ramah lingkungan.
Teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara dosen, laboran, dan mahasiswa dari program studi Sistem Pembangkitan Energi, serta didanai oleh program Inovasi Kreatif Mitra Vokasi (Inovokasi) dari Direktorat Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi, Kemendikbudristek.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Hendrik Elvian Gayuh Prasetya telah menyelesaikan beberapa tahap pengembangan. Pada 23 Oktober, telah dilaksanakan serah terima teknologi kepada M. Munir, Ketua Koperasi Susu Desa Margo Makmur Mandiri di Dusun Brau, Kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu.
“Kami sangat antusias dengan penerapan teknologi ini karena dapat membantu masyarakat Dusun Brau dalam mengurangi pengeluaran rumah tangga dengan memanfaatkan limbah ternak. Program ini juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan,” kata Hendrik, Jumat (25/10/2024).
Ia menjelaskan, program ini bertujuan untuk mengubah bioslurry, yaitu limbah biogas dari kotoran sapi, menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan. “Pupuk organik yang dihasilkan dapat digunakan untuk pertanian lokal dan berpotensi untuk dipasarkan,” tambahnya.
Proses biokonversi menggunakan tiga tangki utama. Yakni tangki filtrasi untuk memisahkan bioslurry dari partikel padat, tangki fermentasi anaerob untuk mengolah bioslurry menjadi pupuk organik berkualitas tinggi, dan tangki pencampur yang mengubah pupuk organik cair menjadi bentuk padat yang lebih mudah digunakan atau dijual.
Kerja sama antara PENS dan KSU Margo Makmur Mandiri telah berjalan selama dua tahun. Pada tahun pertama, fokus utama program ini adalah konversi limbah kotoran sapi menjadi biogas.
Munir mengungkapkan, teknologi ini sangat bermanfaat bagi warga Desa Margo Makmur Mandiri, terutama ketika terjadi kelangkaan gas alam kemasan 3 kg tahun lalu.
“Dengan adanya teknologi ini, kami tidak lagi sepenuhnya bergantung pada gas alam. Anggaran untuk gas bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. Kami bisa menghemat hingga Rp 60 ribu per bulan,” katanya.
Munir berharap, meski saat ini teknologi ini masih diterapkan di skala rumah tangga, ke depannya dapat dioptimalkan dengan menambah instalasi di lokasi lain.
Menurutnya, semakin banyak pengguna, semakin besar dampaknya terhadap keberlanjutan dan kemandirian ekonomi bagi peternak sapi perah di Dusun Brau.
“Sistem ini tidak hanya meningkatkan kualitas pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga memberikan solusi efisien untuk pengelolaan limbah,” katanya.
Kerja sama ini menunjukkan bagaimana inovasi teknologi dapat memberikan dampak positif dalam aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan di tingkat desa. Dengan pengembangan berkelanjutan, KSU Margo Makmur Mandiri berharap dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya serta menjaga kelestarian lingkungan di Kota Wisata Batu. [ipl/but]






