Ponorogo (beritajatim.com) – Pengunjung Grebeg Suro yang digetok harga tak wajar saat makan di Alun-alun Ponorogo, sampai terdengar di telinga Bupati Sugiri Sancoko. Orang nomor satu di Ponorogo itu sangat menyayangkan peristiwa tersebut terjadi. Terlebih, yang yang menjadi korban getok harga tak wajar merupakan orang luar kota Bumi Reog.
Menurut Sugiri, sebagai daerah yang menambatkan diri sebagai kota wisata, tentu kesadaran untuk memanjakan pengunjung tidak hanya dimiliki segelintir orang. Dengan penetapan daerah destinasi wisata ini, harus barang pasti masyarakat harus baik. Keindahan lingkungan harus dijaga kebersihannya.
“Kesadaran sebagai kota wisata tidak harus dimiliki segelintir orang. Masyarakat Ponorogo harus baik untuk sadar wisata,” ungkap Bupati Sugiri Sancoko, Selasa (02/07/2024).
Tak terkecuali dengan suguhan di bidang kulinernya. Warung atau rumah makan harus higienis dan bersih. Pelaku usaha makanan dan minuman harus menjaga kualitas rasanya. Yang tidak kalah penting, harganya juga standar.
“Kita akan tegur pedagangnya,” katanya.
Dengan respons cepat dinas terkait, Bupati Sugiri ingin pedagang menjadi sadar dan tidak getok harga saat perayaan Grebeg Suro tahun ini. Ia menegaskan bahwa di ruang wisata dan dimana pun itu harus tidak ada getok harga. Setidaknya, para pelaku kuliner itu, ada daftar harganya.
“Tidak boleh ngentol(getok), ngemplang (getok) tidak boleh di ruang wisata,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, viral seorang pengunjung Grebeg Suro di Ponorogo digetok harga tak wajar saat makan di Alun-alun Ponorogo. Lewat akun Saka Olshoop, pengunjung yang bernama Yuni Anjarwati itu menyampaikan keluh kesahnya itu, lewat media sosial (medsos) Facebook.
Saat dikonfirmasi, warga Kabupaten Madiun itu menceritakan bahwa kejadian itu, saat dirinya bersama beberapa keluarganya melihat Grebeg Suro di Alun-alun Ponorogo. Nah, sampai di Alun-alun, mereka pun meras lapar dan carilah tempat makan yang dekat. Akhirnya dipilihlah warung makan yang masih dalam komplek Alun-alun Ponorogo.
“Lihat Grebeg Suro kan lapar, akhirnya cari tempat makan yang dekat. Waktu ke tempat makan itu sebenarnya ya dalam hati bilang kok sepi. Tetapi berhubung juga lapar akhirnya ya makan di tempat itu,” ungkap Atik, sapaan Yuni Anjarwati.
Atik pun memesan sesuai dengan menu di list makanan. Meski begitu, list makanan yang disodorkan itu, tidak disertai dengan harga per menu makanan maupun minumannya. Menurut Atik, awalnya dirinya memesan menu 3 porsi nasi campur, seporsi nasi pecel, dan pesan minuman 2 teh anget dan 1 es teh. Namun, kalim Atik si penjual hanya menyodorkan 2 porsi nasi campur dan seporsi nasi pecel, minumannya tidak dikasih.
“Lihat tampilan makanan yang dikasih, kita memutuskan diam saja. Tidak ngomong kalau pesanannya kurang 1 porsi nasi campur. Melihat nasi pecelnya, akhirnya saya ambil 1 rempenyek teri yang ada di dalam toples,” katanya.
Selesai makan, Atik pun berniat untuk membayar. Ia pun dibuat kaget, saat penjualnya bilang bahwa harga makanan yang dipesannya itu seharga Rp70 ribu. Lantas Atik pun menanyakan kembali nominal total harga yang harus dibayarkan.Ia pun menjelaskan lagi ke penjualnya perihal makanan yang sudah dipesannya tadi. Lalu si penjual menjelaskan bahwa nasi pecelnya dengan lauk 1 rempeyek itu seharga Rp10 ribu, kemudian 2 nasi campur harganya Rp60 ribu.
“Ibunya itu jelasinnya dengan nada ketus gitu. Merasa agak gimana gitu, sebagai warga Madiun, semahal-mahalnya nasi pecel itu, kalau harganya Rp10 ribu ya minimal ada telur dan tempenya. Ini nasinya cuma sepincuk kecil dan diberi sayuran dikit sama sambalnya pun tidak merata,” katanya. [end/beq]






