Perubahan pada abad 21 yang cukup fundamental dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat sangat membutuhkan perhatian. Salah satunya yang terpenting, yaitu aspek pendidikan.
Jika terjadi suatu kesalahan dalam aspek tersebut, dapat menghambat pertumbuhan dan kemajuan suatu bangsa. Tuntutan kompetensi pada abad-21 terhadap sistem pendidikan yakni harus menyiapkan siswa yang dapat menghadapi tantangan yang lebih kompleks, baik saat ini maupun di masa yang akan datang.
Kemajuan zaman, perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia tidak terlepas dari unsur matematika. Matematika diorientasikan untuk mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi perubahan dunia yang selalu berkembang.
Matematika merupakan ilmu pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sejak kecil, seseorang telah diajarkan dasar matematika seperti berhitung, menambah, dan juga mengurangi.
Matematika menjadi ilmu penunjang bagi berbagai disiplin ilmu lainnya yang dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien.
Terlepas dari seberapa pentingnya matematika, namun masih dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit, menakutkan, dan tidak menarik, juga membosankan.
Siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan soal-soal matematika, siswa juga sering kali lupa untuk memahami konsep dan hanya membaca sekilas saja.
Padahal, memahami konsep itu sangat penting agar meningkatkan pemahaman terhadap matematika. Matematika kerap dianggap membosankan bagi sebagian siswa karena banyaknya angka, rumus, dan teori yang rumit.
Selain itu, matematika juga dianggap membosankan karena dinilai tidak penting dan tidak akan digunakan di kehidupan sehari-hari. Padahal, sebagian besar aspek kehidupan membutuhkan perhitungan matematika seperti pembangunan rumah, pembangunan jembatan, serta pembuatan komputer dan alat transportasi.
Perspektif tersebut, menjadi sangat ironis sekali jika ada sebagian siswa yang mengganggap matematika sebagai layaknya hantu yang harus dijauhi. Hal ini perlu diteliti untuk mengetahui kegelisan dan pandangan kurang baik siswa terhadap pelajaran matematika. Untuk memperoleh informasi tersebut dapat dilakukan penelitian etnometodolgi terhadap proses pembelajaran matematika.
Penelitian etnometodologi dapat membantu memahami bagaimana praktik matematika diajarkan dan dipelajari dalam konteks budaya tertentu. Penelitian etnometodologi menggunakan berbagai metode kualitatif seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Metode ini membantu mengumpulkan data yang kaya dan mendalam mengenai pengalaman siswa dan guru dalam pembelajaran matematika.
Penelitian Etnometodologi fokus pada interaksi sosial dan proses kognitif yang terjadi dalam pembelajaran matematika. Melakukan pengamatan pada aktivitas guru dalam mengajar dan siswa merespons. Observasi ini membantu mengungkap teknik pengajaran yang efektif serta kesulitan yang dialami siswa dalam memahami konsep matematika.
Etnometodologi juga memeriksa secara mendalam interaksi verbal dan non-verbal yang terjadi selama pelajaran matematika. Melalui analisis percakapan, peneliti dapat melihat bagaimana pertanyaan diajukan, bagaimana jawaban diberikan, dan bagaimana diskusi matematika berlangsung. Misalnya, cara guru memberikan penjelasan dan respons siswa terhadap soal-soal matematika dapat diidentifikasi dan dianalisis untuk melihat efektivitas metode pengajaran yang digunakan. Ini membantu dalam mengidentifikasi strategi komunikasi yang mendukung atau menghambat pemahaman siswa.
Etnometodologi dalam pembelajaran matematika juga memperhatikan konteks budaya selama proses pembelajaran berlangsung. Setiap budaya memiliki cara unik dalam memahami dan mengajarkan konsep matematika. Dengan demikian, penelitian ini membantu menyoroti praktik-praktik lokal yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum matematika untuk membuatnya lebih relevan dan mudah dipahami oleh siswa.
Penelitian etnometodologi akan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang proses pembelajaran matematika, yang kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih efektif dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Misalnya, dengan memahami bagaimana siswa berinteraksi dan merespons berbagai metode pengajaran, guru juga dapat menyesuaikan strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa.
Hasil penelitian ini juga dapat memberikan rekomendasi praktis bagi guru dan pengembang kurikulum untuk membuat pembelajaran matematika lebih efektif dan sesuai dengan konteks budaya siswa. Dengan demikian hasil penelitian bisa dijadikan bekal perbaikan kedepannya dan menjadi bahan refleksi bagi guru, siswa dan pengembang kurikulum yang bisa memberikan manfaat dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan, khususnya dalam menyiapkan generasi yang dapat menghadapi tantangan yang lebih kompleks dan mampu menghadapi perubahan dunia yang selalu berkembang. (ted)






