Malang (beritajatim.com) – Dalam upaya meningkatkan literasi lingkungan di kalangan pelajar, tim peneliti dari Universitas Islam Malang (Unisma) memperkenalkan sebuah konsep baru bernama kurasi mandiri bacaan sastra kepada siswa-siswi di SMPN 13 Malang pada Selasa (5/8/25). Tim peneliti yang diketuai Dr. Ari Ambarwati ini melakukan pengambilan data profil dan pengalaman ekoliterasi terintegrasi bacaan sastra di SMPN 13 Malang.
Kegiatan berlangsung selama satu setengah jam sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian berjudul “Aktualisasi Ekoliterasi di Sekolah: Kelayakan Desain Self-Curation Bacaan Sastra Berwawasan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan”.
Penelitian ini didanai Direktorat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Kemdiktisaintek yang melibatkan tujuh anggota tim yang terdiri dari dua dosen FKIP, satu dosen MIPA, dua mahasiswa S1, dan satu mahasiswa S2. Tim melakukan diskusi terpumpun dengan guru dan siswa untuk mengumpulkan data pengalaman ekoliterasi terintegrasi bacaan sastra.
Ari Ambarwati menjelaskan bahwa metode pengambilan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan wawancara mendalam kepada guru serta siswa. Intan, guru Bahasa Indonesia kelas 8 SMPN 13 Malang, mengungkapkan tantangan dalam meningkatkan minat baca siswa terhadap bacaan berwawasan lingkungan.
“Minat baca anak masih kurang, dan bahan bacaan untuk sadar lingkungan terbatas karena rata-rata buku bacaan yang ada masih bersifat universal,” ujar Intan saat kepada peneliti, dikutip oleh beritajatim.com
Intan menjelaskan bahwa sekolah telah menyelenggarakan kegiatan literasi setiap Jumat melalui program vision board untuk meningkatkan minat baca siswa. Sebagai sekolah Adiwiyata, SMPN 13 Malang telah membiasakan siswa menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari.
“Siswa sudah terbiasa mengurangi penggunaan sampah plastik karena sekolah ini berstatus Adiwiyata, sehingga menjadi kebiasaan mereka,” lanjut Intan.
Ari Ambarwati menjelaskan ketika tim peneliti masuk ke dalam kelas 8B untuk pengambilan data siswa, tim peneliti melihat sebagian besar siswa saat ini menggunakan tumbler untuk minum guna mengurangi sampah plastik. Antusiasme siswa terlihat tinggi selama proses pengambilan data, meskipun beberapa mengalami kesulitan dalam mengisi kuesioner.
“Kami lalu mendampingi dan membantu siswa sepanjang kegiatan berlangsung. Kolaborasi tersebut menunjukkan sinergi positif antara akademisi dan praktisi pendidikan dalam mengembangkan solusi pembelajaran inovatif,” ujar Ambar, dosen Unisma.
Dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian Pengabdian Masyarakat Kemdiktisaintek pihaknya berharap penelitian memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis lingkungan di Indonesia.
“Semoga ini bisa memberi dampak positif bagi pendidikan di Indonesia, khususnya yang berbasis lingkungan agar siswa sadar dan peduli terhadap lingkungan,” ujar Ambar menutup. (dan/ian)






