Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Universitas Ciputra Suguhkan Pertunjukan Kolaborasi Prancis-Indonesia ‘Legenda Godogan’

Pertunjukan kolaborasi Prancis-Indonesia Tari & Musik Legenda Godogan Kungkum Kodok di Dian Auditorium, Universitas Ciputra Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Ada yang menarik pada rangkaian kegiatan Ulang Tahun ke-16 Universitas Ciputra Surabaya tahun ini. Sebuah pertunjukan karya kolaborasi Prancis-Indonesia, yakni ‘Tari dan Gamelan Legenda Godogan Kungkum Kodok’ mencoba disuguhkan di Dian Auditorium Universitas Ciputra, Surabaya, Rabu (24/8/2022) petang.

Pertunjukan tersebut menceritakan seorang ilmuan ahli bioakustik bernama Godogan yang mempelajari nyanyian katak. Dia menyadari kepekaan batrachian terhadap gangguan lingkungan, dia menyaksikan hilangnya katak emas Monteverde pada tahun 1990, spesies yang secara resmi dinyatakan punah pada tahun 2001.

“Legenda Godogan itu adalah tokoh berlatarbelakang scientis yang mulai menyadari mengenai lingkungan sekitar, dan itu dimulai dari saat dia riset di lapangan. Tidak disangka-sangka dia bertemu di sungai, di alam dengan subjek penelitiannya yaitu katak dan sungai,” kata salah seorang penampil dalam pertunjukan tersebut, Marie-Pierre Faurite.


Musisi Gamelan sekaligus anggota Komunitas Rebond Collective Prancis ini juga mengatakan, bahwa pesan khusus dalam pertunjukan itu sendiri terkait dengan tantangan yang terjadi saat ini, yaitu soal perubahan iklim. “Kalau pesan yang ingin disampaikan, apa yang nanti akan dapat dirasakan oleh penontonnya, apa yang dapat dilakukan terhadap tantangan yang terjadi saat ini dalam hal lingkungan, yaitu perubahan iklim,” terangnya.

Sementara Dosen Universitas Ciputra Henry Susanto Pranoto menyebutkan, jika ditarik lebih panjang, cerita dalam pertunjukan tersebut ada kaitannya dengan rasa cinta generasi muda terhadap tradisi, utamanya di bidang musik gamelan.

“Musik Indonesia ini membawa pengaruh luar biasa pada zaman klasik. Dimana klasik zaman romantik itu berubah gara-gara musik gamelan dan artisnya kita dibawa oleh penjajah Belanda untuk acara perayaan 100 tahun revolusi Prancis. Setelah itu salah satu pemusik terkenal mendengar itu dan mengubah jenisnya menjadi impresionis, gara-gara musik gamelan. Itu mengubah dunia,” jelasnya.

Dengan melihat kondisi itu, kata Henry, generasi muda bisa mencintai tradisi. Ia tak memungkiri jika nantinya tradisi itu akan berevolusi. Namun, rasa cinta mereka akan tradisi ini akan membangkitkan dan membuat perubahan bagi dunia.

“Memang bentuknya pasti akan berevolusi, pasti akan menjadi modern lagi, tapi dengan rasa cinta mereka akan tradisi yang luar biasa ini, akan membangkitkan dan membawa perubahan bagi dunia. Karena musik ini sejak awal membawa pengaruh luar biasa,” tandasnya. [ipl/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar