Malang (beritajatim.com) – Divisi Informasi dan Kehumasan Universitas Brawijaya (DIK UB) mengadakan kegiatan Bincang dan Obrolan Santai Bersama Pakar (Bonsai). Acara ini berlangsung di Agro Techno Park (ATP) Cangar dengan tema ‘Pemikiran Berkelanjutan Hidup Harmoni dengan Gunung Api dan Panas Bumi’ pada Jumat (24/11/2023) siang.
Sekretaris Universitas, Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa BONSAI menjadi bagian dari upaya untuk menyebarluaskan pengetahuan di kampus agar tidak mengendap. Agenda ini rutin diadakan oleh humas UB, untuk menambah engagement sebagai institusi badan publik.
“Media sebagai bagian dari yang menyalurkan ilmu agar bermanfaat kepada masyarakat. Salah satu caranya dengan mengundang media, untuk mentransformasikan nilai kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana, dalam kesempatan ini tentang gunung api dan panas bumi,” ungkap Tri Wahyu saat sambutan.
Kegiatan BONSAI mendatangkan Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D. yang merupakan pakar mitigasi bencana dan eksplorasi sumber daya alam, khususnya kegunungapian dan panas bumi. Prof Sukir memandang bahwa tema kegiatan adalah starting point untuk rencana penulisan buku untuk kawasan berbagai kawasan berbeda.
“Dalam sejarahnya sejak abad 19, Indonesia ranking 1 dan 2 di dunia terkait banyaknya korban letusan gunung api. Namun, Indonesia Ranking 2 di dunia potensi geothermal, 40% dari seluruh potensi di dunia dan baru sekitar 4% yang dimanfaatkan,” ujar guru besar yang pernah menempuh pendidikan di Jepang ini.
Dikatakan bahwa Jawa Timur ini atau Indonesia umum, potensi panas bumi sekitar 800 adalah panas bumi yang berasosiasi dengan gunung api. Oleh karena itu, perlu pembukuan potensi yang ada agar keberlanjutan dan kebermanfaatan dapat terjamin.
“Jadi adanya gunung api itu memberi dampak dalam kehidupan masyarakat sekitar, baik positif maupun negatif. Positifnya antara lain, sebagai sumber kehidupan (gunung, sungai, ekologi, dan mata air), penyedia potensi panas bumi, sumber penyedia unsur mineral dan hara dalam menyuburkan tanah dan sumber tambang serta sebagai penunjang ekonomi masyarakat (pariwisata, pertanian, UMKM, dil),” katanya.
Meskipun begitu, perlu diperhatikan dampak negatif gunung api sehingga keberadaan kedua potensi ini dapat disikapi secara bijak. Namun, hal tersebut memberi tantangan karena belum optimalnya pengelolaan potensi sektoral di kawasan kaki gunung api.

“Selain itu, saat ini masih belum masif terkait monitoring kebencanaan kawasan gunung api. Oleh karenanya diperlukan kebijakan yang seimbang dalam segala aspek terkait dengan pengelolaan dan pengembangan kawasan gunung api,” sambungnya.
Guru Besar UB ini menjelaskan, hidup berdampingan dengan gunung api perlu ada kesadaran diri masyarakat maupun semua stakeholder terkait kebencanaan. Artinya, kesadaran kebencanaan secara berangsur perlu diubah sebagai budaya sadar bencana pada berbagai lapisan masyarakat dan lintas sektoral.
“Untuk mengubah kesadaran diri menjadi suatu budaya terhadap kebencanaan dibutuhkan usaha besar, hal ini bisa dilakukan dalam bentuk school watching dan town watching,” tutur pakar Vulkanologi FMIPA UB ini.
School watching berada dalam lingkup sekolah, sementara untuk town watching lingkupnya di kota atau desa mereka sendiri karena masyarakat yang dapat mengamati sendiri potensi bahaya.
BACA JUGA:
Selama 6 Jam, Gunung Semeru Alami 15 Kali Gempa Letusan
“Kita yang ahli bencana pada saat terjadi bencana tidak berada di tempat. Masyarakat yang paham itu, masyarakat yang bisa, masyarakat yang tahu karakternya yang bisa mengevakuasi dirinya sendiri ketika bencana karena mereka yang menghadapinya sendiri,” ungkapnya.
Menurutnya, pengetahuan mitigasi bencana perlu menjadi program pemerintah. Bahkan jika perlu dapat dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dengan strategi. “Jika belum bisa dinasionalkan, maka dapat dimulai dari kurikulum lokal (muatan lokal dengan kerjasama pada daerah-daerah yang bersedia sebagai perintis,” tutup pria yang bergerak di bidang vulkanologi sejak 1998 ini. [dan/but]






