Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya Prof Nanik Suciati mendorong pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk pelestarian naskah kuno. Dalam penelitiannya tentang pengenalan aksara Bali, Nanik menilai pengaplikasian AI akan memudahkan pelestarian budaya kuno ke depannya.
Sebab, aksara Bali itu ada di naskah lontar kuno. Naskah lontar sendiri merupakan dokumen warisan sejarah Bali yang ditulis menggunakan pisau khusus (pengrupak) pada daun lontar kering. Ia menganggap penelitiannya yang fokus pada bahasa isyarat menjadi paling menantang. Pasalnya, dataset yang dipakai untuk AI berbentuk video, sehingga AI bekerja lebih banyak.
Untuk menstabilkan kinerja AI, Nanik menggunakan teknik normalisasi Coordinate Recalculation untuk mengurangi variasi koordinat keypoints terhadap frame video, sehingga pengenalan AI lebih stabil terhadap gambar dan lebih akurat.
Lulusan magister dari Hiroshima University Jepang itu mengungkapkan bahwa masalah umumnya ada pada dataset yang masih kurang untuk melatih Deep Learning agar AI menyelesaikan tugasnya. Kendati demikian, Nanik menilai penelitiannya bisa dikatakan sukses. “Pada ujicoba pengenalan isyarat kata, AI menghasilkan kinerja akurasi tertinggi sebesar 99,90 persen,” tutur Nanik, Senin (14/8/2023).
BACA JUGA:
ITS Surabaya Kukuhkan 6.188 Mahasiswa Baru 2023
Dirinya melihat, teknologi AI memberikan banyak hal positif. Selama menjadi dosen di ITS, Nanik bersyukur karena penelitian AI semakin diperdalam seiring berjalannya waktu. “Semoga melalui penelitian visi komputer saya ini dapat bermanfaat bagi bangsa dan membantu menaikkan kualitas tridharma perguruan tinggi,” pungkasnya penuh harap. [ipl/suf]






