Madiun (beritajatim.com) – Belakangan, sudah jarang sekali Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ) dikabarkan mengamuk di wilayah Kota Madiun. Berbeda dengan tahun 2019 lalu, seminggu bisa dua kali ada ODGJ yang mengamuk hingga perlu penanganan khusus.
Yayasan di Kota Madiun ini membeberkan, ada kiat khusus yang dilakukan agar ODGJ lebih stabil. Bersama dengan Dinas Kesehatan setempat, mereka kerap melakukan kunjungan pada ODGJ yang menjalani perawatan di rumah. Tentu kondisinya sudah stabil.
Bima Primaga Yudha, Ketua Yayasan Citra Pramita Zwastika bercerita jika anggota yayasannya hanya berjumlah 7 orang saja. Namun, tiap hari mereka blusukan untuk mengunjungi ODGJ yang mereka dampingi. Total ada 200 ODGJ yang mendapatkan pendampingan dari yayasan yang kini sudah menjadi mitra pemkot setempat.
“Yayasan kami itu awalnya dari komunitas yang bergerak dalam bidang sosial. Kami sempat berkumpul dan memberikan santunan pada warga kurang mampu. Lama kelamaan, ada pula yang lebih butuh perhatian yakni keluarga yang anggotanya mengalami gangguan jiwa. Tak hanya kesulitan biaya berobat, mereka juga kesulitan akomodasi untuk membawa anggota keluarganya berobat,” kata Bima pada beritajatim.com.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ODGJ”]
Berangkat dari permasalahan itu, Bima dan rekan-rekannya lantas memberikan bantuan pengobatan serta akomodasi. Bahkan, sempat memberikan penanganan bagi ODGJ yang mengamuk. Hingga kerapnya mereka bertemu dengan dinas terkait dalam penanganan ODGJ, akhirnya mereka pun membentuk yayasan agar bisa menjadi mitra pemkot dalam penanganan ODGJ.
“Dan belakangan memang tidak banyak ODGJ yang mengamuk, meski begitu kami tetap lakukan kunjungan. Tujuannya untuk memantau kondisi. Karena, mereka ini juga butuh minum obat. Jika tidak terpantau, mereka kadang menolak minum obat hingga akibatnya bisa mengamuk,” lanjut pria yang tinggal di Jalan Soekarno Hatta nomor 104 RT 02 RW 01 Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun itu.
Tak hanya itu, yayasan itu juga memberikan pendampingan bagi penyintas human immunodeficiency virus (HIV)/ acquired human immunodeficiency syndrome (AIDS). Penyintas penyakit tersebut juga butuh pendampingan. Baik untuk meminum obat, hingga memberikan semangat pada para penyintas HIV/AIDS.
“Kendala kami saat ini adalah donatur ya. Karena, sebenarnya kami ingin menjangkau lebih luas. Namun, karena minim anggaran ini kami hanya bisa melakukan hal sebisa kami,” pungkasnya. (fiq/kun)






