Pendidikan & Kesehatan

5 SMP di Ponorogo Batal Renovasi, Ini Penyebabnya

Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Soiran (foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 turun menghambat pembangunan infrastruktur di Ponorogo. Contohnya yakni gagalnya Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo memperbaiki 5 Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun ini.

Padahal Dindik sebelumnya sudah menganggarkan perbaikan untuk sekolah-sekolah tersebut dengan dana mencapai Rp 1,2 miliar.

“Tahun ini, karena ada recofusing anggaran,  tidak jadi merehab gedung sekolah,” kata Kabid SMP Dindik Ponorogo, Soiran, Selasa (20/4/2021).

Soiran menceritakan bahwa rehabilitasi dari dana Dana Alokasi Umum (DAU) itu, ikut dialihkan untuk penanganan Covid-19. Dia menyebut 5 lokasi sekolah yang batal direhab itu adalah SMPN 3 Ponorogo, Pembangunan ruang TU dan ruang guru di SMPN 2 Sambit. Sisanya pembangunan talud sekolah di SMPN 4 Ngrayun, SMPN 3 Sawoo dan SMPN Pudak.

“Dari kelima titik tersebut yang mendesak untuk dilakukan perbaikan adalah rehabilitasi ruang guru dan TU di SMP 2 Sambit,” ungkap Soiran.

Sebab kerusakannya tergolong berat, yakni pada bagian atap. Takut membahayakan, ruangan itu saat ini tidak digunakan lagi. Struktur bangunan sudah lapuk dan berumur puluhan tahunlah yang menyebabkan kerusakan di ruang tersebut.

“Bangunannya sudah tua dan lapuk, jadi sudah waktunya untuk diperbaiki,” katanya.

Tidak seperti rehabilitasi dari dana DAU terkena recofusing, 30 sekolah yang direhabilitasi lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) justru aman. DAK, kata Soiran tidak terkena imbas dari recofusing untuk penanganan Covid-19. Rehabilitasi senilai Rp 8 miliar itu, saat ini dalam tahap perencanaan ke sejumlah sekolah.

“Target kami rehabilitasi pembangunan sekolah ini bisa dimulai pada bulan Mei 2021 nanti,” pungkasnya. (end/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar