Kediri (beritajatim.com) – Kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji subsidi 3 kg dari Rp16.000 menjadi Rp18.000 cukup memukul pelaku usaha warung. Salah satunya, Semi Sukatmi di depan Mess Persik Kediri.
Bu Katmi, panggilan akrabnya mengaku, terdampak oleh kenaikan harga elpiji melon yang mulai berlaku pada 15 Januari 2025 kemarin. Menurutnya, kini keuntungan dari berjualan menjadi berkurang karena biaya operasional bertambah.
“Kalau naik seperti ini untuk usaha sangat tipis. Keuntungannya ngepres dan rodok menangis,” aku Katmi, pada Kamis 16 Januari 2025.
Dalam satu minggunya, Katmi menghabiskan 8 tabung elpiji 3 kg untuk memasak makanan dan merebus air untuk kopi dan teh. Jika sebelumnya, ia beli di pengecer dengan harga Rp18.000, kini naik menjadi Rp20.000 per tabung.
Apabila kebutuhan seminggu 8 tabung, maka Katmi harus mengeluarkan biaya pembelian LPG sebanyak Rp640.000 (32 tabung LPG) untuk sebulannya. Jumlah tersebut tentu sangat besar baginya yang hanya berjualan makanan dan kopi di pinggir jalan.
“Seminggu itu empat yabung melon di warung dan empat tabung di rumah. Jadi masak makannya di rumah, setelah masak dibawa ke warung ini. Empat tabung di warung ya untuk masak air untuk kopi, teh dan sebagainya,” lanjut perempuan berkacamata ini.
Katmi sudah berjualan selama kurang lebih 38 tahun di depan Mess Persik Kediri. Warungnya menyediakan makanan dengan menu, sayur lodeh, bening dan juga nasi pecel. Kedai ini menjadi langganan banyak orang, termasuk pegawai di Mess Persik Kediri.
“Saya jualan baru 38 tahun disini. Dulu masih menggunakan kompor dari minyak tanah. Kemudian beralih menggunakan LPG. Terus bagaimana kalau naik-naik terus seperti ini?” ucapnya.
Katmi berharap pemerintah memperhatikan nasib pelaku usaha kecil seperti dirinya. Kenaikan harga LPG menyebabkan biaya produksi ikut naik. Padahal, harga menu makanan tidak berubah, sehingga keuntungan pedagang menjadi menurun.
“Harapannya jangan naik-naik lagi. Sangat susah, keuntungannya semakin menipis,” keluhnya.
Pertamina Sikapi Penyesuaian HET LPG 3 Kg
Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyikapi penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG subsidi 3kg di wilayah Jawa Timur.
Pertamina memastikan bahwa stok LPG dalam rantai distribusi Pertamina sampai dengan Pangkalan Resmi LPG 3kg dalam keadaan aman.
Penyesuaian harga LPG subsidi 3kg yang mulai berlaku, pada Rabu (15/1/2025) sesuai dengan SK Pj. Gubernur Jawa Timur No. 100.3.3.1/801/KPTS/013/2024 dengan kenaikan dari Rp 16.000,- menjadi Rp 18.000,-.
Pemberlakuan HET baru tersebut murni keputusan Pj. Gubernur Jawa Timur tanpa campur tangan Pertamina dengan mempertimbangkan beberapa kondisi salah satunya adalah HET di Provinsi Tetangga yakni Bali dan Jateng DIY sudah naik dengan harga yang sama.
Area Manager Comm, Rel & CSR, Ahad Rahedi mengatakan, dengan adanya penyesuaian HET ini masyarakat tidak perlu panic buying.
“Kami terus melakukan upaya untuk mengajak pengecer naik kelas menjadi pangkalan, agar dapat melayani masyarakat lebih luas lagi. Pengecer sendiri bukan merupakan rantai jalur distribusi yang diawasi karena tidak berkontrak dengan Agen atau Pangkalan, sehingga apabila ingin melakukan pembelian tabung 3kg disarankan untuk membeli di pangkalan, karena ketika ada salah satu ketentuan yang tidak dipatuhi oleh pihak pangkalan maka akan diberikan sanksi berupa stop alokasi sampai dengan Pemutusan Hubungan Usaha (PHU),” kata Ahad.
Saat ini sudah ada lebih dari 2 pangkalan di seluruh desa/kelurahan di wilayah Jatim, nantinya dengan semakin banyak pengecer yang beralih status menjadi pangkalan resmi tentu akan semakin mudah dan nyaman bagi masyarakat untuk mendapatkan LPG Bersubsidi 3 Kg,” lanjut Ahad.
Ahad menambahkan, dengan adanya penyesuaian HET LPG subsidi 3kg sesuai arahan pemerintah Provinsi Jawa Timur ini, Pertamina telah melakukan beberapa kegiatan pelaksanaan sosialisasi, mulai dari sosialisasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan OPD terkait, Hiswana Migas, SPBE hingga Agen LPG PSO.
Selanjutnya untuk memastikan harga LPG sesuai dengan HET, seperti yang sudah dilaksanakan secara berkala, Pertamina rutin melakukan monev dan sidak untuk memastikan pangkalan Pertamina memberikan harga sesuai HET.
Saat ini total pangkalan LPG 3kg se-Jatim mencapai 34.739 pangkalan dengan jumlah 142 pengecer yang sudah naik kelas menjadi pangkalan dan masih ada lebih dari 400 pengecer yang sedang berproses menjadi pangkalan.
Untuk stok LPG di Jawa Timur dalam keadaan aman di posisi 9.010 metrik ton dengan rata-rata konsumsi harian 4.668 metrik ton.
“Selanjutnya sebagai bentuk pengawasan, kami juga akan terus melaksanakan pendataan pembelian LPG bersubsidi 3kg untuk memastikan adanya data penyaluran dan kewajaran penggunaan terhadap barang bersubsidi,” tutup Ahad. [nm/aje]






