Gresik (beritajatim.com) – Kegiatan pelayanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cangkir, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, sempat mengalami kelumpuhan akibat tersendatnya dana operasional. Kondisi tersebut berdampak pada terhentinya sejumlah aktivitas pelayanan, khususnya yang berkaitan dengan distribusi dan pengolahan pemenuhan gizi masyarakat.
Penghentian operasional itu berlangsung selama satu hari. Hal tersebut terjadi lantaran keterlambatan pencairan anggaran dari pemerintah pusat.
Kepala SPPG Cangkir Driyorejo dari Yayasan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Untuk Indonesia (Laduni), Ricky Bagus Rendra, membenarkan adanya penghentian sementara tersebut.
“Kami berhenti operasi sementara, tidak melakukan pemesanan bahan. Kalau dipaksakan belanja, pasti rawan menimbulkan konflik dengan para penerima manfaat,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, pemberhentian operasional itu sebelumnya telah disampaikan melalui surat pemberitahuan kepada pihak terkait, sesuai arahan dan koordinasi para pengelola dapur, baik dari yayasan, pemilik dapur, maupun kepala SPPG.
“Ini sudah yang kedua kalinya ada pemberhentian operasional. Sebelumnya juga pernah terjadi pada Desember 2025 karena kendala pencairan anggaran. Waktu itu juga hanya satu hari,” jelasnya.
Menurut Ricky, keterlambatan pencairan dana operasional tersebut diduga tidak hanya terjadi di Gresik, melainkan juga dialami oleh daerah lain.
“Saat dana menipis, kami tidak berani belanja. Untuk mengantisipasi tunggakan, operasional dihentikan sementara. Hari ini sudah mulai kembali beroperasi,” imbuhnya.
Selama beroperasi normal, SPPG Cangkir Driyorejo melayani sebanyak 3.420 penerima manfaat. Pendistribusian Makanan Bergizi Gratis (MBG) diberikan kepada siswa, tenaga pendidik, guru, balita, ibu menyusui, serta ibu hamil. [dny/but]






