Madiun (beritajatim.com) – Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soedono Madiun kembali mendapat sorotan. Kali ini, keluarga pasien mengeluhkan sikap salah satu perawat yang dinilai kurang ramah dan tidak menunjukkan empati saat melayani pasien yang datang untuk berobat.
Keluhan itu disampaikan Arif, warga Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, yang mengantar istrinya berobat ke rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut pada Sabtu (6/6/2026) malam.
Bukan soal antrean atau lamanya proses penanganan medis, Arif justru menyoroti cara komunikasi petugas yang menurutnya jauh dari standar pelayanan publik yang selama ini digaungkan rumah sakit rujukan terbesar di wilayah Madiun Raya itu.
“Pasien datang ke IGD tentu dalam kondisi tidak nyaman. Yang dibutuhkan bukan hanya pelayanan medis, tetapi juga sikap yang baik. Kalau cara bicaranya terkesan ketus, tentu keluarga pasien merasa tidak dihargai,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Menurut Arif, kejadian bermula saat petugas menanyakan identitas pasien. Meski identitas telah dijelaskan dan diperlihatkan melalui KTP, ia mengaku tetap menerima respons yang dinilai kurang bersahabat saat diarahkan menuju loket pendaftaran.
Setelah proses administrasi selesai, pasien kemudian masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan pemeriksaan dokter. Saat itu dokter menyampaikan bahwa pasien akan segera mendapatkan tindakan lanjutan.

Namun setelah menunggu cukup lama tanpa adanya tindakan yang dijanjikan, Arif kembali mencoba meminta penjelasan kepada petugas. Jawaban yang diterimanya justru kembali membuatnya kecewa.
“Saya hanya bertanya perkembangan penanganannya. Kalau memang harus menunggu karena pasien banyak, saya bisa memahami. Tapi penyampaiannya menurut saya kurang enak didengar dan tidak mencerminkan pelayanan yang humanis,” katanya.
Kekecewaan tersebut membuat Arif mempertanyakan sejauh mana komitmen RSUD dr Soedono dalam membangun budaya pelayanan yang berorientasi pada kepuasan masyarakat.
Ia menilai slogan pelayanan prima, senyum, sapa, dan ramah yang selama ini kerap disampaikan kepada publik seharusnya benar-benar diterapkan hingga level petugas yang berhadapan langsung dengan pasien.
“Jangan sampai yang terlihat bagus hanya saat ada penilaian atau kunjungan pejabat. Yang dirasakan masyarakat sehari-hari justru berbeda. Pelayanan itu yang diingat pasien, bukan slogan yang dipasang di dinding,” tegasnya.
Keluhan itu sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai implementasi pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang selama ini menjadi salah satu program unggulan rumah sakit tersebut.
Sementara itu, Humas RSUD dr Soedono Madiun, Denik Sujar, mengatakan pihak rumah sakit telah menerima informasi terkait keluhan tersebut dan saat ini sedang melakukan penelusuran internal.
“Saat ini telah dilakukan telusur dan juga tindak lanjut atas pengaduan tersebut,” ujar Denik saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Senin (8/6/2026).
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD dr Soedono masih melakukan pendalaman untuk memastikan kronologi kejadian sekaligus menindaklanjuti laporan yang disampaikan keluarga pasien. (rbr/but)






