Surabaya (beritajatim.com) – Tim Laboratorium Korosi Departemen Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi dan Rekayasa Sistem Institut Teknologi Sepuluh Nopember (DTMM FTIRS ITS) memberikan pelatihan intensif mengenai sistem proteksi katodik kepada siswa-siswi SMAN 9 Surabaya. Kegiatan ini bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman teknis perlindungan material baja kapal laut dari ancaman korosi yang krusial di dunia industri.
Ketua Tim Pelaksana, Tubagus Noor Rohmannudin, ST., MSc, menjelaskan bahwa korosi bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman serius bagi infrastruktur maritim. Reaksi kimia ini dapat memicu kerugian ekonomi yang besar jika tidak ditangani dengan teknologi yang tepat.
“Korosi terjadi akibat reaksi elektrokimia antara material dengan lingkungan seperti air, udara, dan tanah, sehingga dapat menurunkan kualitas, memperpendek umur pakai, bahkan memicu kerugian besar,” ujar Tubagus di kampus ITS, Sabtu (20/12/2025).
Dalam pelatihan yang berlangsung selama dua hari di ruang sidang DTMM FTIRS ITS ini, para siswa dan guru mendapatkan materi interaktif yang dirancang khusus untuk meningkatkan keterampilan praktis. Materi mencakup prinsip kerja hingga penerapan metode Sacrificial Anode Cathodic Protection (SACP) dan Impressed Current Cathodic Protection (ICCP).
Tubagus menekankan pentingnya menjembatani teori di sekolah dengan aplikasi nyata di lapangan. Ia berharap siswa dapat melihat relevansi ilmu sains dalam menyelesaikan masalah industri.
“Kami ingin siswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengaitkan konsep proteksi katodik dengan kasus nyata di industri maritim,” tambahnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara. Rangkaian kegiatan yang meliputi pre-test, pemaparan materi, diskusi kelompok, hingga kunjungan langsung ke laboratorium berjalan dinamis. Siswa diajak melihat langsung peralatan dan proses proteksi katodik bekerja.
“Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan diskusi dan ketertarikan saat mengenal langsung peralatan serta proses proteksi katodik,” tutur Tubagus.
Berdasarkan hasil evaluasi, tercatat adanya lonjakan pemahaman yang signifikan. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan nilai post-test yang meningkat tajam dibandingkan saat pre-test. Selain capaian akademik, para siswa kini memahami prinsip kerja SACP dan ICCP serta aplikasinya pada baja kapal laut.
“Capaian ini menjadi dasar pembelajaran teknologi material yang berkelanjutan di sekolah, tidak berhenti pada kegiatan jangka pendek,” tegas Tubagus.
Sebagai bentuk komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi, program pengabdian masyarakat ini tidak berhenti usai pelatihan. Tim ITS akan melanjutkan dengan sistem monitoring keberlanjutan melalui konsultasi dan diskusi ilmiah. Pihak sekolah juga diberikan akses layanan pemanfaatan fasilitas laboratorium untuk mendukung proses belajar mengajar.
“Melalui pendampingan berkelanjutan, kami berharap kolaborasi ini memperkuat proses belajar mengajar dan kesiapan siswa menghadapi tantangan teknologi material,” pungkasnya. [asg/beq]






