Mojokerto (beritajatim.com) – Pasya Raskha Syailendra, adalah dalang cilik asal Dawarblandong Mojokerto. Ada yang berbeda saat bertamu ke salah satu rumah di Dusun Talunsudo, Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini. Saat pintu rumah milik Didik Sasmito Aji (43) dibuka tampak sebuah layar berwarna putih berbentuk empat persegi panjang berdiri di salah satu tembok ruang tamu.
Dalam istilah pewayangan ini disebut dengan kelir yakni layar tempat memainkan boneka wayang. Iya, bapak dua anak ini merupakan salah satu dalang yang ada di kecamatan paling ujung timur Kabupaten Mojokerto. Kelir tersebut sengaja tidak dibongkar untuk belajar anak keduanya, Pasya Raskha Syailendra (10).
Darah seni kedua orang tuanya menurun ke bocah kelas IV SDN Banyulegi ini. Alat gamelan lengkap pun siap mengiringinya saat ia berlatih mendalang untuk mengasah kemampuannya yang sudah ia geluti sejak dua tahun lalu. Semua tak lepas dari kebiasaan sang ayah mengenalkannya dunia wayang sejak kecil.
Tak ayal, di usianya saat ini ia sudah mampu pentas menggantikan sang ayam saat mendalang di beberapa kesempatan. Seperti yang terlihat saat beritajatim.com mengunjungi rumahnya, dengan menggenakan beskap yakni baju dalang modern lengkap dengan keris dengan lihai, tangannya memainkan tokoh pewayangan.
Sesekali telapak kakinya dengan lugas memainkan keprak pertanda lakon peperangan dimulai. Sementara sang ayah dengan setia di belakang panggungan yakni tempat untuk menggelar dan menata peralatan pentas atau pergelaran wayang, memantau setiap pertunjukan wayang yang dilakukannya.
Tak jarang sang ayah mengingatkan jika ada suluk merupakan lantunan syair Jawa yang dibawakan dalang saat pentas yang dilantunkan salah. Bakat alami terlihat jelas dalam penampilannya dan terus diasahnya setiap hari sepulang sekolah, meski hanya satu jam. Keinginan kuatnya menjajaki jejak sang ayah rupanya didukung keluarga besar yang memiliki darah seni.
Sarijo mengaku awalnya menyukai kuda lumping dan barongan bukan wayang, meski sang ayah mengenalkan wayang kulit sejak dini. Kecintaannya terhadap pertunjukan tradisional tersebut lahir setelah ia diajak kedua orang tuanya melihat pagelaran wayang kulit di Taman Budaya Cak Durasim, Kota Surabaya.
“Sejak dari kecil, umur 3 tahun. Awalnya ikut ayah keliling tapi belum ngerti perwayangan. Mulai belajar umur 5-6 tahun, awalnya disuruh ayah liat wayang di Taman Budaya terus aku lihat dalangnya kayak seru dan aku tertarik. Suka terus latihan, latihan perang sama suluk,” ungkapnya, Minggu (23/7/2023).
Meski hampir setiap hari ia berlatih didampingi sang ayah, ia mengaku masih belum bisa suluk dengan bagus. Bahkan, bahasa Jawa halus yang menjadi penghantar pertunjukan wayang kulit pun belum semampunya ia kuasai. Ia mengaku masih menguasai beberapa lakon dalam pertunjukan wayang kulit saja.
“Suluk yang susah, bahasanya juga susah tapi lumayang sudah bisa. Yang dimainkan biasanya masih peperangan, perang antara Pandawa dan Kurawa. Kalau latihan biasanya ya sama ayah sama mas Naufal atau liat wayang di YouTube. Susah pas pembukaan masih terus belajar,” katanya
Sementara tokoh pewayangan idolanya adalah tiga bersaudara, Gatotkaca, Anteraja dan Antasena. Sarijo yang mengidolakan Dalang Ki Seno Nugroho dan sang ayah ini dengan fasih menceritakan karakter ketiga tokoh wayang tersebut, Gatotkaca bisa terbang, Anteraja bisa tembus bumi, sama Antasena kebal dan bisa tembus ke bumi.
Sementara itu, sang ayah Didik Sasmito Aji (43) mengatakan, ia memang senjata mengenalkan wayang kulit kepada anak keduanya tersebut sejak dini. “Saya dulu sekolah di SMKI Perdalangan Surabaya, ibunya sinden. Kakak perempuan penari tapi sudah menikah. Dari umur 3 tahun, sudah ikut tanggapan,” tuturnya.
Awalnya Sarijo tak berminat pada dunia pewayangan namun darah seni ada pada Sarijo. Sehingga ia berharap anaknya bisa mewarisi profesi yang ia geluti saat ini yakni sebagai dalang. Sehingga ia sengaja membuatkan sanggar berupa kelir berukuran panjang 3 meter terpampang di salah satu tembok ruang tamu.
“Sangat mendukung, bangga sekali punya anak generasi penerus. Sebagai dukungan, saya buatkan sanggar kecil-kecilan. Kelir ini buat latihan setiap hari, pulang sekolah nyandak (memainkan) wayang. Latihan, habis banyak wayang rusak-rusak.Saya biarin dulu, biar mengembangkan bakatnya,” urainya.
Didik menjelaskan, saat ia pentas dalam pertunjukan wayang kulit, anaknya diminta untuk menggantikannya terutama saat peperangan. Tak jarang masyarakat yang melihat bakat anak keduanya tersebut memuji dan tak jarang membandingkan dengan sang ayah.
“Tampilnya itu, kadang saya pentas pas perang saya suruh pegang peperangan. Kadang sore, saya suruh wayangan 1/2-1 jam. Masyarakat banyak yang suka liat dia dalang, bahkan banyak yang omong ‘Enak anak e daripada bapak e (enak anaknya daripada bapakanya)’. Tapi biasanya saya ajak kalo pas libur biar tidak mengganggu sekolahnya,” tegasnya. [tin/kun]
BACA JUGA:
![Pasya Raskha Syailendra, Dalang Cilik Asal Dawarblandong Mojokerto Sarijo saat memainkan wayang di ruang tamu rumahnya di Dusun Talunsudo, Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/07/VideoCapture_20230723-063415_RCW3aPyE6V-1024x576.jpeg)
![Didik Sasmito Aji (43) saat memainkan wayang [Foto : ist] Didik Sasmito Aji (43) saat memainkan wayang [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/07/VideoCapture_20230723-063645_Gz4j7L0s8h-300x169.jpeg)
![Sarijo saat memainkan wayang di ruang tamu rumahnya di Dusun Talunsudo, Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist] Sarijo saat memainkan wayang di ruang tamu rumahnya di Dusun Talunsudo, Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/07/VideoCapture_20230723-063240_rvmL6ti68N-300x169.jpeg)





