Surabaya (beritajatim.com) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada Kota Surabaya memastikan pasokan air bersih tetap aman. Namun demikian, musim kemarau tahun ini membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal biasa produksi yang naik signifikan.
Direktur Operasi PDAM Surya Sembada, Nanang Widyatmoko, mengungkapkan meskipun pasokan masih mencukupi, kemarau panjang berdampak pada ketersediaan bahan baku air.
“Secara kapasitas, insya Allah masih aman,” ujarnya saat dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (3/10/2024).
PDAM Surya Sembada mengandalkan aliran Sungai Brantas sebagai sumber utama bahan baku air. Namun, selama musim kemarau, pengelola Kali Brantas menutup pintu air untuk menjaga debit sungai, sehingga limbah industri dan domestik tidak terbawa arus. Akibatnya, kualitas air sungai menurun karena peningkatan polutan.
“Yang tidak aman dari sisi kualitas air (bahan) bakunya. Namun, kami memastikan bahwa air (hasil) produksi kami harus tetap sesuai standar dari Permenkes,” jelas Nanang, merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 Tahun 2023 tentang standar air minum.
Untuk menjaga kualitas air, PDAM memperbanyak penggunaan zat kimia guna membunuh bakteri dan memanfaatkan teknologi terbaru dalam pengolahan air. Namun, hal ini menyebabkan peningkatan biaya operasional, terutama untuk bahan kimia dan listrik.
“Akhirnya, dampaknya apa? Bahan kimianya lebih banyak, listrik lebih banyak, dan biaya operasional menambah. Untuk bahan kimia saja, misalnya, ini meningkat hampir 4 kali lipat,” ungkapnya.
Meskipun biaya produksi melonjak, PDAM memilih tidak menaikkan tarif air kepada pelanggan. Sebagai gantinya, perusahaan melakukan efisiensi operasional, termasuk uji coba bahan kimia baru yang dapat menghemat biaya hingga 40 persen.
“Dengan bahan kimia baru ini, Insyaallah kami bisa saving (menghemat) sampai 40 persen,” kata Nanang. Selain itu, PDAM juga mulai menggunakan inverter listrik untuk menekan biaya operasional pompa.
Nanang menjelaskan bahwa sumber air dari pegunungan, seperti mata air Pasuruan, hanya menyumbang sekitar 8 persen dari total kebutuhan air di Surabaya. Sisanya, air baku diambil dari Sungai Brantas melalui Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM).
“Surabaya sudah mengambil air dari Umbulan Pasuruan sebesar 750 ribu liter per detik. Kami sendiri punya (sumber mata air pegunungan) sebesar 300 ribu liter per detik. Sejauh ini, kalau dari sumber itu malah kurang begitu,” jelasnya.
Di tengah tantangan perubahan iklim, PDAM tak hanya mengandalkan efisiensi internal. Nanang juga mengajak pelanggan PDAM untuk lebih bijak dalam menggunakan air.
“Dengan penggunaan air secara efektif maka produksi air juga bisa efisien sehingga biaya yang ditimbulkan bisa ditekan,” pungkasnya. [asg/beq]






